Harga Minyak Kembali Naik Imbas Ketidakpastian Negosiasi AS-Iran
News
29 September 2026 07:20

Kanoko Matsuyama - Bloomberg News
Bloomberg, Harga minyak naik selama dua hari berturut-turut di tengah ketidakpastian perkembangan perundingan AS-Iran. Kenaikan ini juga dipengaruhi oleh indikasi kuatnya permintaan serta dimulainya kembali aliran minyak melalui jalur pipa strategis milik Arab Saudi, eksportir minyak terbesar dunia.
Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik menembus US$93 per barel setelah menguat tipis pada sesi sebelumnya, sementara minyak mentah Brent ditutup mendekati US$105 per barel. Pejabat Iran secara tertutup menyatakan pesimistis terhadap kemungkinan tercapainya kesepakatan untuk mengakhiri permusuhan dengan Washington dan membuka kembali Selat Hormuz sebelum pemilihan paruh waktu AS pada November mendatang. Sikap tersebut muncul setelah Presiden AS Donald Trump menolak proposal Iran untuk membuka kembali jalur pelayaran tersebut dalam waktu tujuh hari.
Sementara itu, Arab Saudi telah memulihkan sekitar setengah dari kapasitas aliran minyak melalui jaringan pipa East-West yang melintasi wilayah negara tersebut. Jalur ini menjadi rute penting untuk menghindari Selat Hormuz setelah serangan pesawat nirawak menghentikan operasionalnya pada awal bulan ini. Menurut sejumlah sumber yang mengetahui masalah tersebut, volume minyak yang mengalir melalui jaringan pipa menuju Laut Merah telah mencapai setidaknya 3,5 juta barel per hari.
Prospek fundamental pasar minyak semakin menguat dalam beberapa waktu terakhir. Sejumlah indikator utama yang mengukur ketatnya pasokan melonjak dalam beberapa hari terakhir, mencerminkan tingginya permintaan terhadap minyak yang dapat segera dikirimkan. Sementara itu, harga bahan bakar terus meningkat di tengah masih terganggunya kapasitas kilang minyak global. Harga minyak mentah diperkirakan mencatat kenaikan bulanan untuk ketiga kalinya secara berturut-turut, didorong oleh meningkatnya ketegangan AS-Iran, gangguan pada jalur alternatif pengiriman minyak Arab Saudi, serta potensi pembatasan ekspor solar oleh Washington.





























