Logo Bloomberg Technoz

Balik Arah, Rupiah Tutup Perdagangan di Jalur Hijau

Tim Riset Bloomberg Technoz
25 September 2026 15:55

Karyawan merapihkan mata uang rupiah dan dolar AS di tempat penukaran mata uang di Jakarta, Senin (27/7/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Karyawan merapihkan mata uang rupiah dan dolar AS di tempat penukaran mata uang di Jakarta, Senin (27/7/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Rupiah menutup perdagangan pekan ini dengan penguatan terbatas, selaras dengan mata uang Asia lainnya. Pada Jumat (25/9/2026), rupiah ditutup menguat 0,04% ke Rp17.893/US$, berbalik arah dari posisi pembukaan yang sempat terdepresiasi 0,15% di Rp17.901/US$. 

Rupiah tertopang oleh sentimen dari pasar komoditas. Harga minyak Brent sore ini kembali terpangkas 0,38% ke US$106,19/barel. 

Selain itu, pergerakan rupiah sore ini juga didukung oleh Surat Utang Negara (SUN) jangka pendek yang kian diminati investor. Kala tenor lain mencatat kenaikan yield, SUN tenor 1 tahun justru terpangkas 4,5 basis poin (bps) ke 6,79%. 


Minat investor di tenor 1 tahun sejalan dengan langkah Bank Indonesia (BI) yang mengurangi penerbitan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dengan durasi tenor sama. Pada lelang sebelumnya (11/9/2026), BI menjual SRBI dengan yield rata-rata penawaran 6,94%. Hari ini turun menjadi menjadi 6,78%. 

Sementara dari pasar obligasi global, yield US Treasury masih bertahan tinggi. Namun, kenaikan yield tenor acuan 10 tahun mulai terpangkas 5,3 bps ke 5,16%.