Terpangkasnya yield US Treasury membawa ruang penguatan bagi obligasi global. Di Jepang, yield obligasi pemerintah tercatat turun 1,2 bps ke 3,05%, Australia turun 0,1 bps ke 5,36%, Jerman turun 0,3 bps ke 3,59%, dan Italia turun 1,5 bps ke 4,52%.
Sementara, yield obligasi pemerintah Korea Selatan dan China relatif stabil di 4,36% dan 1,66%.
Meredanya tekanan di pasar keuangan membuat ruang penguatan bagi mata uang Asia melebar. Won Korea Selatan memimpin penguatan sebesar 0,86%. Disusul yen Jepang 0,44%, peso Filipina, baht Thailand, ringgit Malaysia, rupee India, dolar Singapura, dan rupiah.
Sebaliknya, yuan offshore melemah bersama dengan dolar Hong Kong.
Walaupun hari ini rupiah menguat, tetapi sepanjang pekan rupiah masih mencatat depresiasi 0,84% dan menjadi mata uang terlemah di Asia. Disusul yen Jepang yang melemah 0,82% dan yuan offshore 0,38%.
Sejak awal bulan ini, mata uang Ibu Pertiwi sudah terpangkas 0,97%. Rupiah menempati posisi kedua terlemah di Benua Kuning, setelah ringgit Malaysia yang melemah 1,17%.
(dsp/aji)





























