Jika pembicaraan tersebut menghasilkan kesepakatan dan mendorong pembukaan kembali Selat Hormuz, tekanan terhadap rupiah berpotensi mereda.
"[Jika hasil pembicaraan] sebaliknya, [maka] tekanan terhadap rupiah bisa berlanjut," tuturnya.
Adapun Lukman menilai, level Rp18.000/US$ akan menjadi perhatian karena merupakan level psikologis penting bagi pasar. Bank Indonesia disebutnya juga diperkirakan akan lebih aktif menjaga stabilitas rupiah apabila tekanan semakin mendekati level tersebut.
Sebagai catatan, rupiah membuka perdagangan pada pagi ini dengan pelemahan 0,15% ke Rp17.928/US$. Tak lama berselang, rupiah melanjutkan pelemahan 0,19% ke Rp17.935/US$ pada 09:07 WIB.
Namun, rupanya intervensi yang dilakukan otoritas moneter bisa menahan rupiah dan memangkas pelemahannya jadi 0,11% pada 09:16 WIB.
Pelemahan rupiah terjadi ketika tekanan eksternal masih membayangi pasar keuangan domestik, terutama dari kenaikan yield US Treasury dan harga minyak yang bertahan di level tinggi.
Dengan begitu, ruang penguatan rupiah hari ini masih relatif terbatas. Pergerakan mata uang domestik kemungkinan akan sangat sensitif terhadap dua indikator utama, yakni arah harga minyak dan yield US Treasury.
Jika harga minyak kembali naik dan yield obligasi AS bertahan di atas 5%, maka rupiah berisiko melanjutkan pelemahan menuju area Rp17.900/US$. Sebaliknya, penurunan harga minyak yang lebih dalam disertai meredanya yield AS dapat membuka ruang bagi rupiah untuk kembali menguat ke kisaran Rp17.800/US$.
(prc/ell)




























