Rupiah Berisiko Tertekan Lagi, Pasar Menanti Jurus BI
Tim Riset Bloomberg Technoz
22 September 2026 08:29

Bloomberg Technoz, Jakarta - Rupiah spot diperkirakan masih akan tertekan dalam perdagangan Selasa (22/9/2026). Menjelang pengumuman BI Rate besok, pelaku pasar mencermati langkah dan strategi moneter Bank Indonesia (BI) di tengah ekspektasi BI Rate dipertahankan di level 5,75%.
Ekspektasi ini menguat seiring kondisi rupiah yang relatif stabil dalam beberapa pekan terakhir, setidaknya sejak akhir Juli hingga pertengahan September, sebelum bank sentral Amerika Serikat (AS) mengambil langkah hawkish dan menaikkan suku bunga acuannya.
Akan tetapi, stabilitas itu bukan berarti tekanan sepenuhnya hilang. Usai bank sentral AS menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin (bps) ke 3,75-4%, pergerakan dolar AS dan imbal hasil US Treasury pun kembali meninggi.
Belum lagi harga minyak global yang masih bergerak di kisaran US$100/barel, serta ketidakpastian geopolitik masih menjadi faktor eksternal yang menekan laju penguatan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Tekanan ini mulai terlihat dari pergerakan rupiah di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) yang kembali menyentuh Rp17.904/US$, setelah melemah 0,35% pada penutupan tadi dini hari. Lalu, pagi ini rupiah pada 07.34 WIB masih bergerak di kisaran Rp17.902/US$.



























