Jika BI benar-benar menahan BI Rate di 5,75%, maka perhatian pelaku pasar kemungkinan akan beralih pada pesan mengenai kondisi rupiah ke depan. Pasar ingin mengetahui apakah BI masih melihat kondisi nilai tukar cukup aman atau justru menyiapkan langkah jika tekanan terhadap rupiah kembali naik.
Ini menjadi hal penting yang akan dicermati pelaku pasar, sebab suku bunga sejatinya bukan satu-satunya alat yang dimiliki BI untuk menjaga rupiah. BI juga dapat menggunakan cadangan devisa dan berbagai instrumen moneter lainnya di pasar keuangan untuk mengurangi gejolak nilai tukar.
Menurut Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian, BI perlu semakin mengoptimalkan instrumen FX swap, DNDF, serta pengelolaan likuiditas dan arus modal asing.
Sementara itu, dari pasar mata uang Asia belum banyak pergerakan, kecuali won Korea Selatan yang menguat tajam 0,7%, disusul mata uang lainnya seperti yuan offshore, yen Jepang, dan dolar Hong Kong yang menguat sangat terbatas.
Penguatan tajam terhadap won ditopang oleh indeks acuan KOSPI yang menembus level 7.000 pada perdagangan kemarin, untuk pertama kali dalam tujuh sesi perdagangan.
Penguatan di pasar saham Korea Selatan didorong oleh lonjakan harga saham Samsung Electronics, setelah Korea Selatan merilis data ekspor semikonduktor yang mencetak rekor pada September.
Sementara, rupiah kemarin justru sempat tertinggal dibanding mata uang Asia lain. Kondisi itu menunjukkan bahwa terpangkasnya harga minyak mentah belum cukup untuk menjadi katalis penguatan rupiah.
Terlebih posisi harga ini masih berada di atas kisaran asumsi dasar Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 di US$70/barel.
Untuk itu, pasar tampaknya masih mencermati faktor domestik, terutama menjelang keputusan suku bunga acuan. Rupiah memang sempat menikmati penguatan sekitar 1,5% sejak awal Agustus, tetapi agaknya momentum itu mulai kehilangan tenaga.
Salah satu masalah domestik adalah fundamental eksternal Indonesia yang masih menghadapi tekanan. Defisit transaksi berjalan yang melebar di kuartal II-2026 jadi sinyal bahwa kenaikan harga energi berpotensi meningkatkan kebutuhan impor dan valuta asing.
BI sendiri menegaskan komitmennya dalam menjaga stabilitas rupiah dengan mengambil langkah intervensi. Seperti dikutip Bloomberg News, BI akan melakukan intervensi secara konsisten dan berkelanjutan melalui transaksi NDF di pasar luar negeri, transaksi spot di pasar domestik, serta domestic non-deliverable forward (DNDF). BI juga disebut akan membeli obligasi pemerintah di pasar sekunder.
Analisis Teknikal
Secara teknikal, nilai tukar rupiah masih dibayang-bayangi risiko pelemahan. Target pelemahan terdekat menuju level Rp17.850/US$ dengan target pelemahan kedua berharap tertahan di Rp17.900/US$.
Apabila kembali menjebol kedua support tersebut, maka mata uang Nusantara bisa saja melemah lebih lanjut menuju level Rp18.000/US$ sebagai support psikologis terkuat.
Namun jika nilai tukar rupiah mampu menguat, maka resistance yang menarik dicermati adalah Rp17.800/US$ dan selanjutnya Rp17.750/US$.
Adapun rupiah sejatinya masih ada potensi penguatan optimistis lanjutan seiring sentimen pasar yang mulai membaik. Rupiah memiliki resistance potensial di Rp17.700/US$, meski peluang ke arah sana masih terbatas.
(riset/aji)




























