Blok Menantang
Menurut Hadi, untuk menggarap potensi Natuna D-Alpha yang memiliki tantangan teknis luar biasa, terutama akibat tingginya kandungan karbon dioksida (CO₂ ). Walhasil, Nations Petroleum membutuhkan kepakaran dari korporasi global.
"Perlu kolaborasi dengan praktisi besar di Group Seven Sister atau korporasi minyak dan gas China," lanjutnya.
Untuk diketahui, Seven Sisters adalah istilah historis untuk tujuh perusahaan minyak multinasional terbesar di dunia pada pertengahan abad ke-20, seperti Exxon, Shell, Chevron, dan British Petroleum (BP).
Terkait dengan kendala tingginya kandungan CO₂ di Natuna D-Alpha, Hadi menjelaskan bahwa dari sisi teknologi, industri migas global sebenarnya sudah cukup matang.
Namun, tingkat keekonomian proyek akan sangat bergantung pada kemampuan mitra yang digandeng untuk mengolah CO₂ tersebut menjadi produk bernilai tambah.
"Technology-wise cukup matang dan tersedia di industri migas. Persoalan keekonomian project, tergantung banyak hal, jadi akan menjadi ekonomis kalau menemukan mitra yang mempunyai teknologi konversi CO₂ menjadi bahan bakar atau produk petrokimia lainnya seperti metanol atau DME [dimetil eter]," terangnya.
Sebelumnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengumumkan PT Nations Petroleum sebagai pemenang lelang Blok Natuna D-Alpha.
Entitas di bawah bendera Arsari Group milik adik Presiden Prabowo Subianto, Hashim Djojohadikusumo, ini memenangi lelang dengan komitmen bonus tanda tangan sebesar US$200.000 dan total komitmen pasti eksplorasi tiga tahun pertama mencapai US$103,309 juta.
Komitmen pasti tersebut meliputi tiga paket studi G&G, akuisisi dan pemrosesan data seismik 3D seluas 591 km², satu unit pilot design and engineering, tiga paket studi terintegrasi CO₂, satu manufaktur, pengadaan dan konstruksi, dua paket biaya desain EPC, satu sumur appraisal, satu sumur eksplorasi, serta satu paket operasi, serta pengujian dan pemantauan multi-mode.
Untuk diketahui, Blok Natuna D-Alpha merupakan wilayah kerja (WK) yang terletak di Kepulauan Natuna, Kepulauan Riau.
Kendati memiliki potensi cadangan raksasa, lapangan kaya gas tersebut memiliki kandungan karbon dioksida atau CO₂ yang sangat tinggi, sehingga kandungan gas yang dapat dieksploitasi diperkirakan hanya sekitar 46 TCF.
Di sisi lain, Kementerian ESDM mencatat potensi kandungan minyak dari Natuna D-Alpha mencapai sekitar 2.865 juta barel.
(smr/wdh)






























