Logo Bloomberg Technoz

GAS INDUSTRI

RI Disarankan Swap LNG demi Jaga Industri Agar Harga Bisa US$15,4

Azura Yumna Ramadani Purnama
05 November 2026 12:10

Kapal tanker gas alam cair (LNG) Aquarius di lepas pantai Laut Jawa, Jakarta, Indonesia./Bloomberg-Dimas Ardian
Kapal tanker gas alam cair (LNG) Aquarius di lepas pantai Laut Jawa, Jakarta, Indonesia./Bloomberg-Dimas Ardian

Bloomberg Technoz, Jakarta – Praktisi senior minyak dan gas bumi (migas) Hadi Ismoyo menyarankan pemerintah mengalihkan sebagian kontrak ekspor gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) jangka panjang untuk memenuhi kebutuhan industri domestik, di tengah meningkatnya harga gas di Asia dan ketatnya pasokan.

Hadi menilai pengalihan tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan harga kontrak jangka panjang yang saat ini dalam simulasinya berada di perkiraan US$15,4/juta juta unit termal Inggris (MMBtu).

Dia menjelaskan asumsi harga tersebut didasarkan pada harga minyak mentah rata-rata US$110/barel dengan menggunakan formula slope sebesar 14% dalam kontrak jangka panjang.


Menurutnya, opsi tersebut lebih memungkinkan alih-alih meminta kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) memberikan diskon harga gas, mengingat harga LNG di pasar spot telah bergerak di kisaran US$30/MMBtu.

Pergerakan harga LNG spot di Asia./dok. Bloomberg

“Jika Pemerintah tidak bertindak. Betul sekali, bisa jadi akan ada kelangkaan gas bagi konsumen industri. Untuk itu, rekomendasi saya adalah realokasi kontrak jangka panjang ke domestik; tetapi dengan harga kontrak, contoh dalam simulasi tersebut sekitar US$15.4/MMBtu atau angka lain dalam kontrak,” kata Hadi kepada Bloomberg Technoz, Kamis (5/11/2026).