Pelemahan saham emiten batu bara tersebut terjadi setelah muncil laporan gangguan pengiriman batubara dari tambang di wilayah Kalimantan Tengah.
Sungai Barito yang menjadi jalur pelayaran kapal tongkang pengangkut batu bara mengalami pendangkalan dan kekeringan akibat fenomena El Niño. Kondisi tersebut membuat kedalaman sungai menurun dan berpotensi membatasi pergerakan batubara dari lokasi tambang menuju terminal ekspor.
Berdasarkan laporan Argus Media, sejumlah produsen bahkan menyatakan force majeure atas pengiriman akibat rendahnya permukaan air Sungai Barito. Kondisi ini meningkatkan kekhawatiran terhadap ketersediaan ekspor jika periode kering akibat El Niño berlangsung lebih panjang.
Tambang batu bara di wilayah Kalimantan Tengah yang terdampak memproduksi batubara dengan kalori menengah hingga tinggi. Beberapa tambang di wilayah tersebut tercatat memiliki produksi hingga 100.000 ton batu bara per bulan.
(dhf)































