Sementara, Samuel Sekuritas memperkirakan rupiah akan bergerak di rentang Rp17.600-18.150/US$ dengan kecenderungan melemah. "Lonjakan harga minyak mentah Brent yang kini menembus US$95/barel menjadi katalis negatif utama yang memicu tekanan besar terhadap mata uang rupiah," kata Harry Su, Managing Director Research Samuel Sekuritas.
Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk (BNLI), Josua Pardede menyebut rupiah kemungkinan menghadapi risiko jangka pendek. "Untuk jangka sangat pendek saya melihat rupiah cenderung bergerak di kisaran Rp17.700-18.050/US$ dengan titik berat sekitar Rp17.800-Rp17.950/US$," kata Josua.
Dengan harga minyak Brent yang kembali melambung, ia memperkirakan rupiah dapat kembali menguji di kisaran Rp18.100-18.300/US$. Namun, ia memberi catatan terkait data tenaga kerja AS yang menjadi acuan inflasi bank sentral The Fed dalam mengambil sikap moneter.
Jika data tenaga kerja AS melemah dan The Fed menahan suku bunga acuan pada September, rupiah masih mempunyai ruang penguatan ke rentang Rp17.500-17.700/US$.
Arah BI Rate
Inflasi yang menghangat menghidupkan kembali spekulasi pasar terkait arah suku bunga acuan BI Rate pada pertemuan Rapat Dewan Gubernur (RDG) September ini. Inflasi Agustus tercatat 3,19%, terdorong oleh kenaikan harga makanan, minuman, dan tembakau, serta transportasi dan kenaikan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya.
Dengan tekanan harga minyak, sejumlah pihak memperkirakan inflasi masih akan meninggi. Maybank memperkirakan inflasi berpotensi meningkat dalam beberapa bulan mendatang.
"Kami mempertahankan perkiraan inflasi umum setahun penuh 2026 sebesar 3,5% sebelum melambat menjadi 3% pada 2027. Dalam delapan bulan pertama 2026, inflasi rata-rata adalah 3,4%," kata Brian Lee, Analis Maybank, dalam catatannya.
Meski begitu, Maybank memperkirakan Bank Indonesia (BI) masih akan mempertahankan suku bunga acuan di 5,75% pada pertemuan bulan ini. Alasannya, rupiah relatif stabil meski mengalami tekanan. Lee meramal, rupiah akan bergerak di rentang Rp17.500-Rp18.000/US$.
Di samping itu, BI memiliki instrumen selain suku bunga untuk membantu meredam volatilitas akibat tekanan eksternal. Maybank menilai kebijakan BI saat ini sudah memperhitungkan satu kenaikan Fed Fund Rate (FFR).
Sebaliknya, OCBC cenderung lebih hawkish dengan memperkirakan adanya kenaikan BI Rate sebesar 75 basis poin (bps) hingga akhir 2026.
"Kombinasi tekanan eksternal yang berkelanjutan di tengah meningkatnya inflasi tetap konsisten, kami memperkirakan pengetatan kebijakan moneter masih diperlukan," kata Lavanya Venkatgeswaran, Ekonom Senior ASEAN OCBC, dalam laporannya.
Kemudian Ekonom BNLI Faisal Rachman memperkirakan BI masih akan mempertahankan BI Rate di 5,75% hingga akhir tahun. Meski begitu, sulit untuk meniadakan peluang kenaikan BI Rate.
"Dalam situasi sekarang, kami tidak bisa mengesampingkan ruang kenaikan BI Rate pada 2026. Namun skenario dasar kami adalah BI akan tetap mempertahankan suku bunga acuan di 5,75%, seiring kenaikan BI Rate sebelumnya sudah mempertimbangkan kemungkinan kenaikan Federal Funds Rate pada kuartal IV-2026," sebut Faisal.
(dsp/aji)































