Logo Bloomberg Technoz

Pada Agustus, inflasi pangan bergejolak sudah meningkat dari 2,52% menjadi 4,06% secara tahunan, didorong kenaikan harga daging ayam, cabai rawit, ikan, dan beras. Permintaan pangan juga meningkat seiring kembali aktifnya sekolah, program Makan Bergizi Gratis, serta sejumlah hari besar.

“Jadi apabila El Nino kemudian menekan produksi beras dan hortikultura pada saat permintaan tetap kuat, kenaikan harga bisa menjadi lebih persisten daripada yang saat ini masuk dalam proyeksi,” katanya.

Namun demikian, Josua menilai bahwa dampak El Nino tidak otomatis membuat inflasi melonjak jauh di atas sasaran BI. Hal yang paling menentukan menurutnya adalah intensitas dan durasi El Nino, wilayah produksi yang terdampak, kondisi stok beras pemerintah, waktu panen, kecepatan impor apabila diperlukan, serta efektivitas distribusi antarwilayah.

El Nino moderat dapat membuat inflasi akhir tahun mendekati sisi atas proyeksi dan bahkan mendekati 3,5%; risiko menembus batas tersebut menjadi lebih besar apabila El Nino terjadi bersamaan dengan pelemahan rupiah dan kenaikan harga energi.

“Karena itu, menurut saya pemerintah tidak boleh menunggu harga pangan naik baru bertindak. Stok dan kebutuhan beras, jagung, ayam, telur, cabai, dan komoditas utama harus dihitung lebih awal dengan memasukkan tambahan permintaan dari program pemerintah,” katanya.

Menurut Josua, operasi pasar dan distribusi pangan perlu dilakukan sebelum terjadi kelangkaan, bukan sesudahnya.

Jika El Nino mulai menurunkan proyeksi produksi secara nyata, keputusan mengenai tambahan impor pangan juga sebaiknya dilakukan lebih dini agar tidak membeli ketika harga internasional sudah naik.

El Nino sendiri menurut Josua masih belum cukup untuk menggagalkan sasaran inflasi, tetapi kombinasi El Nino, permintaan pangan yang meningkat, rupiah yang melemah, dan harga minyak yang kembali tinggi dapat membuat inflasi akhir 2026 lebih tinggi dari 3,13% dan membawa inflasi semakin dekat ke batas atas sasaran BI.

Cermati Kenaikan Inflasi Juli

Josua juga mengatakan bahwa pemerintah perlu mencermati kenaikan inflasi yang terjadi pada Juli meski saat ini angka inflasi masih berada dalam rentang target pemerintah.

“Angka 3,19% pada Agustus menurut saya belum dapat disebut terlalu tinggi, karena masih berada dalam sasaran inflasi 2,5±1%. Namun kenaikannya dari 2,88% pada Juli perlu dicermati karena terjadi bersamaan dengan inflasi bulanan 0,21% dan inflasi inti yang meningkat menjadi 2,92%,” kata Josua.

Menurutnya, tekanan terbesar masih berasal dari sisi pasokan pangan. Inflasi pangan bergejolak melonjak dari 2,52% menjadi 4,06% secara tahunan, terutama karena daging ayam, cabai rawit, ikan dan beras.

Permintaan juga meningkat selama perayaan hari kemerdekaan, Maulid, dan kembali aktifnya Program Makan Bergizi Gratis setelah libur sekolah. Pada saat bersamaan terdapat gangguan cuaca terhadap sejumlah hasil hortikultura.

Hal Ini merefleksikan andil program pemerintah dalam meningkatkan permintaan pangan harus semakin diikuti peningkatan produksi.

“Jika kapasitas produksi ayam, beras, telur, sayuran dan sistem distribusinya tidak tumbuh secepat permintaan baru, program yang baik dari sisi sosial dapat menghasilkan tekanan harga yang justru mengurangi daya beli masyarakat lainnya,” kata Josua

Sementara hal yang juga ia garis bawahi adalah inflasi inti yang mulai naik dari 2,76% menjadi 2,92%. Kenaikan terjadi pada emas, minyak goreng, makanan jadi berbasis beras, telepon seluler, pelumas dan komputer jinjing.

“Hal tersebut sebagai indikasi bahwa tekanan harga dari pelemahan rupiah dan gangguan rantai pasok mulai diteruskan dari biaya produsen kepada konsumen,” kata Josua.

Meski begitu, Josua masih belum melihat ekonomi mengalami kelebihan permintaan. Indeks manufaktur Agustus justru turun dari 50,2 menjadi 49,8, produksi dan ketenagakerjaan menurun, sedangkan pelaku usaha masih melaporkan lemahnya permintaan dan meningkatnya harga barang.

Sehingga ia menyimpulkan bahwa inflasi saat inu lebih merupakan persoalan biaya dan pasokan dibandingkan ekonomi yang terlalu panas. Konsekuensinya, respons utama pemerintah seharusnya memperbaiki pasokan, bukan semata-mata menekan permintaan melalui suku bunga.

BPS Wanti-wanti Dampak El Nino 

BPS menilai dampak fenomena El Nino turut berdampak pada laju inflasi yang terjadi di Indonesia pada 2026. Hal ini terutama mempengaruhi harga komponen pangan yang bergejolak.

"Kami BPS mencatat adanya transmisi dinamika cuaca iklim Seperti El Nino melalui pergerakan harga pada komponen pangan yang bergejolak," kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono dalam rilis resmi BPS, dikutip, Rabu (2/9/2026). 

Menurutnya, BPS mengamati dampak tersebut terutama pada komoditas tanaman pangan dan hortikultura yang dinilai sensitif terhadap kondisi ketersediaan air serta pola tanam.

Berdasarkan pergerakan harga komoditas hortikultura pada Agustus 2026, Ateng mengatakan terdapat dinamika yang bervariasi. Sejumlah komoditas tercatat mengalami kenaikan harga dan memberikan andil terhadap inflasi, sementara komoditas lainnya justru mengalami penurunan harga dan menyumbang deflasi.

"Komoditas yang penyumbang inflasi kalau kita lihat secara bulanan ini ada cabai rawit ya ini andil terhadap inflasinya 0,2%. Ada kacang panjang, ada buncis, ada jagung manis, ada ketimun, ada semangka masing-masing komoditi yang saya sebutkan ini memberikan andil 0,01%," jelasnya. 

Di sisi lain, sejumlah komoditas hortikultura memberikan andil terhadap deflasi pada Agustus 2026. Bawang merah memberikan andil deflasi sebesar 0,06%, tomat 0,05%, bawang putih 0,02%, dan bayam 0,01%.

Ateng menegaskan, pergerakan harga pangan tidak bisa semata-mata dikaitkan dengan fenomena El Nino. Sebab, terdapat berbagai faktor yang saling berkaitan dan turut menentukan harga komoditas pangan di pasar.

"Karena itu dampak fenomena iklim seperti El Nino ini tidak berdiri sendiri. Tentunya ini perlu dilihat secara komprehensif," jelasnya.

Menurut dia, sejumlah faktor yang perlu diperhatikan antara lain dinamika produksi, keseimbangan pasokan dan permintaan, kelancaran distribusi, ketersediaan pasokan di pasar, hingga pola konsumsi masyarakat.

(ell)

No more pages