Logo Bloomberg Technoz

Meski begitu, indeks dolar AS sebenarnya telah menguat 0,35% sepanjang pekan, lantaran pasar kembali memperhitungkan risiko inflasi yang maish tinggi sehingga kemungkinan suku bunga The Fed atau Fed Fund Rate (FFR) akan bertahan tinggi lebih lama. 

Kondisi ini berpotensi membatasi ruang penguatan rupiah. Kenaikan yield US Treasury, terutama tenor pendek, juga memberi insentif bagi investor untuk menahan aset berbasis dolar AS. 

Dari dalam negeri, pelaku pasar masih mencermati situasi hari ini usai demonstrasi yang berlangsung kemarin dan arah kondisi keamanan dalam negeri pasca demonstrasi tersebut.

Agaknya pasar menganggap kondisi kemarin relatif terjaga, meski ada ketegangan yang sempat terjadi tak jauh dari Gedung DPR/MPR. Hal ini terlihat dari pergerakan rupiah di pasar spot yang berbalik arah ke Rp17.732/US$, menguat 0,29% pada 09:11 WIB.

Di sisi lain, pelaku pasar juga akan mencermati efektivitas dari respons pemerintah terhadap bencana alam, bukan hanya kebakaran hutan, tetapi juga gempa bumi yang melanda Nusa Tenggara Timur (NTT). 

Sejumlah bencana alam, seperti kebakaran hutan yang menyebabkan asap juga menahan produktivitas yang pada akhirnya berpotensi memperlambat laju pertumbuhan ekonomi daerah, serta berpotensi berdampak pada laju pertumbuhan ekonomi secara nasional. 

Hari ini, rupiah diperkirakan akan bergerak di rentang Rp17.740/US$ hingga berpotensi ke arah Rp17.650/US$ yang menjadi target optimistis. 

(riset/aji)

No more pages