Logo Bloomberg Technoz

Rupiah Belum Aman, Masih Dibayangi Tekanan

Tim Riset Bloomberg Technoz
28 August 2026 07:57

Karyawan merapihkan mata uang rupiah dan dolar AS di tempat penukaran mata uang di Jakarta, Senin (27/7/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Karyawan merapihkan mata uang rupiah dan dolar AS di tempat penukaran mata uang di Jakarta, Senin (27/7/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Rupiah di pasar spot hari ini, Jumat (28/8/2026), diperkirakan masih berpotensi mendapat tekanan, kala pelaku pasar mencermati pidato Ketua Federal Reserve Kevin Warsh di simposium Jackson Hole yang diperkirakan sebagian pihak akan bernada hawkish.

Di samping itu, harga minyak mentah Brent kemarin kembali terkerek 2,12% ke US$89,7/barel dari posisi sebelumnya US$87,27/barel. Meski pagi ini sempat terpangkas 0,13%, harga minyak masih tinggi US$89,58/barel. 

Begitu juga dengan indeks dolar Amerika Serikat (AS) terhadap enam mata uang utama masih bertahan di 99,12, dan membuat rupiah di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) sedikit defensif dengan perubahan 0,04% ke Rp17.790/US$. 


Sementara sebagian mata uang Asia di pasar yang sudah buka masih sanggup melawan walaupun terbatas. Won Korea Selatan menguat paling tajam 0,13%, disusul ringgit Malaysia, dolar Singapura, dan yen Jepang yang menguat lebih terbatas.

Sebaliknya, yuan offshore melemah tipis 0,01%. 

Pergerakan mata uang Asia pada Jumat (28/8/2026), 07.28 WIB. (Bloomberg).