Logo Bloomberg Technoz

Rupiah Dibuka Rp17.875/US$

Tim Riset Bloomberg Technoz
18 August 2026 09:15

Pengunjung menukarkan mata uang dolar AS dan rupiah di tempat penukaran mata uang di Jakarta, Senin (27/7/2026) (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Pengunjung menukarkan mata uang dolar AS dan rupiah di tempat penukaran mata uang di Jakarta, Senin (27/7/2026) (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Rupiah membuka perdagangan Selasa (18/8/2026) dengan pelemahan 0,18% ke Rp17.857/US$, memangkas penguatan pada perdagangan pekan lalu. Sejalan dengan tekanan yang belum mereda di pasar luar negeri, rupiah offshore terdepresiasi 0,03% di Rp17.872/US$. 

Pelemahan rupiah dipicu oleh kenaikan harga minyak dalam tiga hari beruntun, dan berada di US$91,15/barel, seiring melemahnya prospek perdamaian antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. 

Kedua negara ini masih berselisih dalam berbagai isu, termasuk mengenai Selat Hormuz. Sementara itu, Washington tidak terlibat dalam negosiasi Iran dengan Oman mengenai pengelolaan jalur perairan tersebut. 


Dari Asia, pergerakan mata uang cenderung beragam dalam merespons pergolakan yang terjadi di Timur Tengah dan kenaikan harga minyak. Ringgit Malaysia menguat 0,28%, disusul won Korea Selatan, dolar Taiwan, dan dolar Hong Kong.

Sebaliknya, peso Filipina melemah, bersama baht Thailand, yuan chin, yuan offshore, dan dolar Singapura, juga yen Jepang. 

Rupiah dan mata uang Asia, Selasa (18/8/2026). (Bloomberg)