Logo Bloomberg Technoz

Rupiah Berpotensi Melemah Hari Ini, Harga Minyak Jadi Tekanan

Tim Riset Bloomberg Technoz
18 August 2026 08:10

Karyawan mengambil mata uang rupiah di tempat penukaran mata uang, Jakarta, Selasa (12/5/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Karyawan mengambil mata uang rupiah di tempat penukaran mata uang, Jakarta, Selasa (12/5/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Rupiah berpotensi kembali melemah di pasar spot pada perdagangan Selasa (18/8/2026), setelah sempat ditutup menguat pada perdagangan pekan lalu. 

Belum banyak katalis yang dapat mengangkat penguatan rupiah lebih lanjut hari ini, usai libur akhir pekan yang panjang. Sebaliknya, tekanan eksternal terlihat kembali mengintai dengan kenaikan harga minyak Brent yang tercatat naik ke US$90,87/barel.

Kembali naiknya harga minyak mentah kembali menggiring pasar pada kekhawatiran inflasi. Meredupnya prospek penyelesaian perang AS-Iran, setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan tidak berminat memperpanjang kesepakatan yang telah habis masa berlakunya dengan Teheran, jadi penyebab kenaikan harga minyak. 


Merespons kondisi eskternal tersebut, mata uang Asia bergerak defensif, dengan penguatan terbatas pada yen Jepang 0,06%, won Korea Selatan 0,05%, ringgit Malaysia dan dolar Singapura masing-masing 0,02%. 

Mata uang Asia defensif, merespons harga minyak yang kembali US$90/US$. (Bloomberg)

Rupiah Non-Deliverable Forward (NDF) juga bersikap sama dengan kebanyakan mata uang kawasan. Mula-mula, membuka sesi perdagangan di pasar offshore dengan stagnansi di level Rp17.866/US$, lalu rupiah offshore sempat melemah ke Rp17.909/US$ pada 07.08 WIB, dan tak lama berselang rupiah di luar negeri kembali ke Rp17.875/US$. 

Pergerakan rupiah di pasar Non-Deliverable Forward (NDF). (Bloomberg)