Rupiah Melemah, Yield dan Inflasi AS Kembali Tekan Asia
Tim Riset Bloomberg Technoz
01 October 2026 09:13

Bloomberg Technoz, Jakarta - Rupiah membuka perdagangan pertama bulan ini pada Kamis (1/10/2026) dengan pelemahan 0,16% ke Rp17.898/US$, sejalan dengan melemahnya sebagian besar mata uang kawasan. Tak lama berselang, rupiah kembali melemah 0,29% ke Rp17.921/US$ pada 09.09 WIB.
Yen Jepang melemah paling tajam 0,49%, lalu baht Thailand, dolar Taiwan, won Korea Selatan, rupiah, dolar Singapura, ringgit Malaysia, peso Filipina dan yuan offshore. Sementara, dolar Hong Kong, rupee India, dan yuan China stagnan.
Tekanan terhadap mata uang kawasan datang dari masih adanya ekspektasi kenaikan suku bunga acuan oleh bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (The Fed), sebesar 36%.
Walaupun angka inflasi berada di bawah perkiraan pelaku pasar, kekhawatiran akan kenaikan harga akibat biaya energi belum sepenuhnya hilang. Data inflasi AS, Price Consumer Expenditure (PCE), lebih rendah dari perkiraan pasar, dengan PCE tahunan 3% (survei 3,3%), dan PCE bulanan 0,2% (survei 0,3%).
Tapi di saat yang sama, tingkat keyakinan konsumen AS anjlok menjadi 81,9, jauh di bawah seluruh proyeksi ekonom dalam survei Bloomberg, akibat memburuknya persepsi terhadap perekonomian dan pasar tenaga kerja. Selain itu, proporsi konsumen yang berencana membeli kendaraan, rumah, dan sejumlah barang tahan lama utama juga mengalami penurunan




























