Logo Bloomberg Technoz

Kekhawatiran Inflasi & Kenaikan Harga Minyak Tekan Bursa Asia

News
18 August 2026 06:20

Bursa Asia. (Dok: Bloomberg)
Bursa Asia. (Dok: Bloomberg)

Rob Verdonck - Bloomberg News

Bloomberg, Bursa saham di Asia diperkirakan mengekor penurunan Wall Street pada Selasa (18/8) seiring tingginya harga minyak yang memicu kekhawatiran inflasi serta memudarnya harapan tercapainya kesepakatan untuk mengakhiri perang dengan Iran.

Kontrak berjangka indeks saham mengindikasikan penurunan di Sydney, Tokyo, dan Hong Kong pada hari Selasa, sementara pasar Korea Selatan bersiap dibuka kembali usai libur. Kontrak berjangka ekuitas AS merosot tipis setelah indeks S&P 500 turun 0,5% dan Nasdaq 100 yang didominasi saham teknologi melemah 0,2% di New York. Di sisi lain, produsen cip mencatatkan penguatan setelah detail lonjakan penjualan Anthropic memicu sentimen positif (bullish) terhadap sektor kecerdasan buatan (AI).


Minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) menguat 1% menjadi US$85,30 per barel pada Selasa pagi setelah melonjak hampir 3% pada sesi sebelumnya, menghidupkan kembali kekhawatiran bahwa biaya energi dapat memicu kembali inflasi dan memaksa Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga sebelum akhir tahun. Indikator dolar AS versi Bloomberg merosot ke level terlemahnya sejak Mei, sementara imbal hasil (yield) Treasury 30-tahun melonjak ke level tertingginya sejak 2007. Imbal hasil Treasury 10-tahun naik tiga basis poin menjadi 4,72% pada hari Senin.

Prospek perdamaian di Timur Tengah meredup setelah Donald Trump menyatakan tidak berminat memperpanjang kesepakatan dengan Iran yang akan segera berakhir, di saat pertempuran kembali memanas di Lebanon. Para investor kini memantau pergerakan harga minyak dan imbal hasil obligasi guna melihat indikasi guncangan inflasi berkepanjangan yang dapat mendorong spekulasi pengetatan kebijakan The Fed serta menekan saham-saham dengan valusi tinggi.

Grafik harga minyak. (Sumber: Bloomberg)