Logo Bloomberg Technoz

Menakar Arah Rupiah Hari Ini, Kala Tekanan Global Belum Reda

Tim Riset Bloomberg Technoz
02 October 2026 08:16

Karyawan menghitung rupiah di tempat penukaran uang asing di Jakarta, Selasa (29/9/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Karyawan menghitung rupiah di tempat penukaran uang asing di Jakarta, Selasa (29/9/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Rupiah hari ini berpotensi kembali melemah di pasar spot pada perdagangan Jumat (2/10/2026). Tekanan eksternal kembali menjadi beban rupiah dan mata uang Asia hari ini, namun Bank Indonesia (BI) kian intensif melakukan intervensi menahan volatilitas mata uang Garuda. 

Dari sisi eksternal, tekanan datang dari harga minyak mentah Brent kembali naik ke US$102,6/barel, setelah melemah 0,22%. Begitu juga dolar Amerika Serikat (AS) dengan indeks dolar terkerek ke 102 dengan kenaikan 0,64% kemarin. Sementara, yield US Treasury masih bertahan di 5,2% walaupun turun 3,5 basis poin (bps) setelah kemarin berada di 5,3%, tertinggi sejak 2003. 

Pagi ini, sebagian mata uang kawasan dalam posisi tertekan. Won Korea Selatan melemah paling tajam 0,33%, disusul ringgit Malaysia, dolar Singapura, yuan offshore, dan dolar Hong Kong. 

Mata uang Asia (Bloomberg)

Tekanan terhadap rupiah belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) rupiah hari ini bergerak di rentang Rp17.974-Rp17.986/US$. 

Bahkan, pergerakan rupiah pada perdagangan kemarin menunjukkan level Rp18.000/US$ semakin dekat untuk kembali diuji. Rupiah ditutup melemah 0,45% ke Rp17.950/US$, usai rilisnya data inflasi yang meninggi.