Rupiah Ditutup Melemah, Tertekan Inflasi yang Makin 'Bandel'
Tim Riset Bloomberg Technoz
01 October 2026 15:48

Bloomberg Technoz, Jakarta - Rupiah menutup perdagangan Kamis (1/10/2026) dengan pelemahan yang lebih dalam dari pembukaan tadi pagi. Melansir data Bloomberg, rupiah ditutup melemah 0,45% ke Rp17.950/US$, kala harga minyak brent kembali terkerek dan hampir kembali menyentuh level US$100/barel.
Kekhawatiran akan inflasi di tengah ketidakpastian resolusi konflik Timur Tengah membuat harga minyak sulit turun karena pasokan masih terganggu. Ekspektasi inflasi ini membuat yield US Treasury semakin tinggi dan tercatat di 5,32% untuk tenor 10 tahun, sebab pelaku pasar memperkirakan bank sentral AS akan kembali mengerek suku bunga acuan dalam rapat bulan ini.
Kondisi tersebut membuat mata uang Asia kompak melemah. Yen Jepang terpangkas paling tajam, disusul won Korea Selatan, rupiah, baht Thailand, rupee India, dolar Singapura, peso Filipina, dan ringgit Malaysia, serta yuan offshore dan dolar Taiwan. Sementara, dolar Hong Kong dan yuan China stagnan.
Dari domestik, inflasi terlhat kian persisten. Walaupun inflasi tercatat lebih rendah dari konsensus Bloomberg, posisinya tetap lebih tinggi 3,28% yoy daripada inflasi bulan lalu yang 3,19% yoy.
Inflasi September disebabkan oleh kenaikan harga pangan dengan adanya kenaikan harga pada kelompok volatile food yang mencapai 5,03% yoy. Secara bulanan tekanan kelompok ini mencapai 1,46% mtm.





























