Logo Bloomberg Technoz

Rupiah Dapat 'Doping' dari Pasar Obligasi

Redaksi
13 August 2026 13:12

Karyawan merapihkan mata uang rupiah dan dolar AS di tempat penukaran mata uang di Jakarta, Senin (27/7/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Karyawan merapihkan mata uang rupiah dan dolar AS di tempat penukaran mata uang di Jakarta, Senin (27/7/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Rupiah bergerak menguat pada sesi perdagang Kamis (13/8/2026), tertopang aksi beli yang mewarnai pasar Surat Utang Negara (SUN). Mengacu data Bloomberg per 11:50 WIB, rupiah yang tadi sempat di posisi Rp17.886/US$ berbalik menguat secara ke Rp17.873/US$. 

Dari kawasan, penguatan terjadi pada hampir semua mata uang. Dolar Taiwan menguat paling tajam ke 0,34%, disusul baht Thailand ke 0,23%.

Sementara won Korea Selatan, yen Jepang, dolar Singapura, dan rupiah, yuan offshore, juga yuan China lebih terbatas penguatannya. 

Rupiah dan mata uang Asia (Bloomberg)

Dari pasar obligasi, aksi beli terjadi pada semua tenor. Yield SUN 1 tahun turun 2,9 basis poin menjadi 6,87%, sementara tenor 2 tahun dan 3 tahun masing-masing terpangkas 4,5 bps dan 4,7 bps. Penguatan juga terjadi pada tenor 5 tahun dengan penurunan yield 3,9 bps jadi 7,18%. 

Di tenor acuan 10 tahun yield turun 1,1 bps jadi 7,22%. Sementara tenor yang lebih panjang mengalami penurunan yield lebih terbatas, dengan yield 20 tahun hanya turun 0,6 bps menjadi 7,24%, dan tenor 30 tahun turun 0,4 bps jadi 7,31%. 

Yield obligasi domestik menguat, aksi beli mewarnai pasar Surat Utang Negara. (Bloomberg)