Logo Bloomberg Technoz

Rupiah Tembus Rp18.013/US$, Yield INDON Tertinggi Sejak 2023

Redaksi
28 September 2026 19:57

Karyawan merapihkan mata uang rupiah dan dolar AS di tempat penukaran mata uang di Jakarta, Senin (27/7/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Karyawan merapihkan mata uang rupiah dan dolar AS di tempat penukaran mata uang di Jakarta, Senin (27/7/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Rupiah di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) bergerak melemah, seiring menguatnya tekanan eksternal dan ekspektasi data perekonomian domestik September. 

Melansir data Bloomberg pukul 19.15 WIB pada Senin (28/9/2026), rupiah di luar negeri kembali sentuh Rp18.013/US$, usai melemah 0,33%. Tadi sore, rupiah menutup perdagangan spot melemah 0,46% ke posisi Rp17.975/US$. 

Rupiah di pasar luar negeri kembali tembus Rp18.013/US$ pada Senin (28/8/2026), 19.15 WIB. (Bloomberg)

Pelemahan rupiah dipicu oleh kenaikan harga minyak Brent yang terus melambung ke level US$107,3/barel lantaran memudarnya harapan akan prospek resolusi konflik Timur Tengah antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. 


Indeks dolar AS terhadap enam mata uang utama kembali menguat ke 101,11 bersamaan dengan kenaikan yield US Treasury tenor 10 tahun sebesar 4,6 basis poin (bps) ke 5,2%. Pasar kini tengah menghadapi risiko geopolitik dan potensi meningkatnya tekanan harga. 

Dari dalam negeri, kenaikan harga minyak mentah menghidupkan kembali alarm inflasi. Bloomberg Economics memperkirakan inflasi September akan berada di 3,3%, naik dari posisi bulan sebelumnya 3,19%. Kenaikan harga minyak diproyeksikan mendorong inflasi, meski pemerintah sebagian menahan transmisinya melalui skema subsidi bahan bakar minyak (BBM).