Logo Bloomberg Technoz

The Fed Berpotensi Lebih Dovish, Rupiah Berpeluang Menguat

Tim Riset Bloomberg Technoz
13 August 2026 08:10

Karyawan merapihkan mata uang rupiah dan dolar AS di tempat penukaran mata uang di Jakarta, Senin (27/7/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Karyawan merapihkan mata uang rupiah dan dolar AS di tempat penukaran mata uang di Jakarta, Senin (27/7/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Rupiah di pasar spot berpotensi mendapat tenaga dengan meredanya kekhawatiran mengenai kenaikan suku bunga The Fed, Fed Fund Rate (FFR), dengan angka inflasi Amerika Serikat (AS) yang jinak. 

Inflasi AS tercatat sesuai proyeksi ekonom dan analis yakni 3,4% secara tahunan, dan inflasi inti berada di 2,5%. Data ini memberi kelegaan bagi investor setelah adanya pelemahan pada ketenagakerjaan AS. 

“Data inflasi dan laporan ketenagakerjaan yang lebih lemah dari perkiraan dapat membuat pejabat Fed yang hawkish tetap menahan diri pada September,” ujar Gary Schlossberg, global strategist di Wells Fargo Investment Institute, seperti dikutip Bloomberg News


Turunnya peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September setidaknya mengurangi tekanan dari sisi interest rate differential, alias selisih suku bunga. Pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga September berada sekitar 40% setelah sebelumnya lebih tinggi. 

Di pasar komoditas, harga minyak mentah Brent turun 0,76% ke US$88,27/barel. Namun demikian, pasar minyak global dikabarkan tengah menghadapi defisit pasokan sebesar 1,8 juta barel per hari pada kuartal ini, menurut Badan Energi Internasional (IEA).