Pada saat yang sama, AS tercatat melelang US$42 miliar US Treasury 10 tahun dengan yield 4,68%, yang menjadi level tertinggi sejak 2007. Yield aset SUN dan UST masih punya selisih sekitar 255 basis poin (bps). Namun tingginya spread tersebut masih memiliki risiko nilai tukar lantaran SUN dalam rupiah sementara UST dalam dolar AS.
Jika dibandingkan obligasi pemerintah berdenominasi dolar (INDON), ada spread 97 bps. Masih cukup atraktif bagi investor untuk memarkirkan uangnya di instrumen yang ditawarkan pemerintah.
Sebagai catatan, yield INDON tenor 3 tahun turun 7,2 bps menjadi 4,44%, tenor 7 tahun juga turun 2,3 bps 5,33%, dan tenor 10 tahun turun 1,5 bps jadi 5,65%.
Meriahnya pasar keuangan domestik ini terjadi kala pasar masih mencermati nama-nama yang akan mengisi pos dalam otoritas moneter Indonesia.
Kepastian bahwa pos Gubernur BI akan diisi oleh Destry Damayanti, memang telah mengurangi ketidakpastian di pasar. Namun, investor kini mulai mengalihkan perhatian kepada komposisi Dewan Gubernur secara lebih luas.
Presiden Prabowo Subianto mengusulkan dua nama untuk mengisi pos Deputi Gubernur adalah Solikin M Juhro dan M Anwar Bashori. Hanya salah satu yang terpilih akan menggantikan Aida S Budiman yang diusulkan untuk menjadi Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia.
Sepertinya, pasar tak cuma menunggu siapa yang akan menjadi Gubernur BI, tetapi juga membaca formasi kepemimpinan baru di MH Thamrin dan arah kebijakan yang akan dibawa ke depan.
DPR akan memproses ketiga kandidat ini untuk melaksanakan uji kelayakan dan kepatuhan, sesuai mekanisme yang berlaku.
(dsp/aji)






























