“Untuk perusahaan yang sudah go public tentu dengan adanya penambahan cadangan akan menjadi faktor yang sangat menarik bagi investor untuk menanamkan modalnya,” tegas dia.
Rizal menegaskan kegiatan eksplorasi bakal menghasilkan data penting untuk rencana penambangan, antara lain; karakteristik batuan, besar cadangan yang dapat ditambang secara ekonomis, kualitas bijih, dimensi bijih dan penyebarannya.
“Serta parameter lainnya seperti data geologi, geomekanik, geoteknik, geohidrologi, dan parameter lainnya yang sangat diperlukan untuk perencanaan tambang nantinya,” ungkap Rizal.
Berbagai Proyek
Untuk diketahui, sejumlah perusahaan pertambangan raksasa di Indonesia beberapa tahun belakangan tengah mengembangkan tambang baru untuk menambah cadangan atau sumber daya komoditas perusahaan.
Terbaru, PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) sedang melakukan eksplorasi di tambang Tanamalia di Sorowako, Sulawesi Selatan. Blok Tanamalia merupakan bagian dari izin usaha pertambangan khusus (IUPK) Vale Indonesia yang meliputi subblok IUPK Loeha, Lemo-Lemo, dan Lingkona dengan luas 13.556 hektare (ha).
Blok Tanamalia juga berada di kawasan hutan Sorowako dengan izin eksplorasi lanjutan seluas 17.239 ha. Area Tanamalia mencakup Desa Loeha dan sebagian kecil Desa Rante Angin, Luwu Timur.
Pengembangan tambang Tanamalia sedang dalam tahap studi front end loading (FEL) tahap II yang melingkupi; penyusunan feasibility study (FS), keekonomian, teknis pengembangan, operasional, legal, serta aspek environmental, social, and governance (ESG).
Di sisi lain, PT Freeport Indonesia (PTFI) sedang gencar mengembangkan tambang bawah tanah Kucing Liar di kawasan Grasberg, Papua. Tambang tersebut akan menggantikan produksi dari tambang Deep Mill Level Zone (DMLZ) yang mengalami penurunan.
Freeport-McMoRan Inc. (FCX) melaporkan berdasarkan hasil eksplorasi terbaru Freeport, cadangan tembaga yang dapat diekstraksi di tambang Kucing Liar hingga 2041 diprediksi meningkat menjadi 8 miliar pon dan emas menjadi 8 juta ons.
Besaran tersebut tercatat lebih tinggi dibandingkan dengan perkiraan cadangan sebelumnya, yakni tembaga sebesar 7 miliar pon dan emas 6 juta ons.
Dalam laporan kinerja FCX, dijelaskan bahwa nantinya produksi rata-rata dari Kucing Liar pada kapasitas penuh mencapai 750 juta pon tembaga dan 735.000 ons emas atau lebih tinggi 35% dari perkiraan sebelumnya.
Per Juni 2026, FCX telah menggelontorkan dana sekitar US$1,4 miliar atau sekitar Rp25,18 triliun untuk pengembangan tambang bawah tanah Kucing Liar. Selain itu, investasi modal tambahan diperkirakan mencapai US$4 miliar hingga 2033 atau sekitar US$500 juta per tahun.
Sementara itu, PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA) melalui PT Merdeka Gold Resources Tbk. (EMAS) mengembangkan tambang emas Pani di Gorontalo, dengan total wilayah konsesi perseroan yang mencapai 14.670 ha.
Tambang emas Pani mulai beroperasi pada 1 Oktober 2025 dan menghasilkan emas pertama pada kuartal I-2026. Pengembangan tambang emas Pani pada fase awal memanfaatkan teknologi heap leach dengan kapasitas 8 juta ton bijih per tahun, dengan rencana untuk meningkatkan kapasitas menjadi 10 juta ton per tahun.
Fase selanjutnya mencakup pengembangan fasilitas pengolahan carbon in leach (CIL) dengan kapasitas 12 juta ton bijih per tahun. Pada kapasitas penuh, Tambang Emas Pani diperkirakan akan menghasilkan sekitar 500.000 ons emas per tahun.
Adapun, PT United Tractors Tbk (UNTR) telah menuntaskan transaksi pengalihan kepemilikan tambang emas Doup PT Arafura Surya Alam (ASA) milik PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB). Tambang Doup saat ini masih dalam tahap konstruksi dengan luas area sebesar 4.000 ha dan berlokasi di Sulawesi Utara.
Tambang Doup diperkirakan memiliki cadangan emas 1,6 juta ons dan sumber daya 3,1 juta ons. Berdasarkan catatan PSAB, sebelumnya PT ASA pada kuartal IV-2025 telah mengeluarkan biaya eksplorasi sebesar US$74.018.
Pada perkembangan lain, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) melalui PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) terus melakukan eksplorasi tambang tembaga dan emas di Cebakan Elang, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Perseroan melaporkan melaporkan cadangan bijih emas dan tembaga di Cebakan Elang meningkat dari 1,4 miliar metrik ton menjadi 2,5 miliar metrik ton.
Peningkatan ini juga mencakup kenaikan 71% dalam kandungan tembaga, atau dari 10,4 miliar pon menjadi 17,8 miliar pon, serta kenaikan 76% dalam kandungan emas, dari 15 juta ons menjadi 26,4 juta ons.
Kegiatan penambangan di Cebakan Elang direncanakan berlangsung setelah usia Tambang Batu Hijau selesai hingga 2046. Fasilitas pengolahan bijih, smelter tembaga, dan pemurnian logam mulia rencananya akan memanfaatkan fasilitas yang sudah ada di Batu Hijau.
Di lain sisi, PT Bumi Resources Mineral (BRMS) juga sedang mengembangkan tambang emas Linge di Linge, Aceh.
Melalui PT Linge Mineral Resources BRMS mengelola wilayah konsesi seluas 36.420 ha, yang saat ini sedang menjalani kegiatan pengeboran, survei elektromagnetik, uji metalurgi, pekerjaan desain pertambangan, dan studi kelayakan yang telah disetujui.
Total sumber daya tambang Linge diperkirakan mencapai 6,8 juta ton bijih dengan kadar rata-rata 1,58 gram emas per ton dan 7,07 gram perak per ton.
Perseroan memproyeksikan dari sumber daya tersebut terkandung sekitar 345.107 ons emas dan 1,15 juta ons perak.
(azr/wdh)




























