Namun, sejatinya penjulanan secara bulanan pada Juli 2026 diperkirakan masih akan terkontraksi 0,3%. Lantaran ada normalisasi permintaan setelah musiman selesai seperti Hari Besar Keagamaan Nasional (HKBN) dan libur sekolah.
Konsumen Atur Ulang Pengeluaran
Data IPR menggambarkan adanya perubahan komposisi konsumsi. Pelemahan memang terjadi secara tak merata pada semua kelompok. Hal ini menggambarkan bahwa rumah tangga terlihat semakin selektif dalam menentukan prioritas pengeluarannya.
Kelompok suku cadang dan aksesori justru tumbuh kuat, mencapai 18,8%, secara tahunan pada Juni. Sementara, perlengkapan rumah tangga lainnya tumbuh 2,8%, namun barang lainnya hanya tumbuh 1,1%.
Sebaliknya, makanan, minuman dan tembakau, kelompok yang justru punya bobot lebih besar dalam indeks, malah terkontraksi 3,6%.
Penjualan sandang juga turun 3,1%. Kelompok peralatan informasi dan komunikasi, justru turun paling dalam dengan kontraksi 21,7%.
Meski begitu, ekspektasi penjualan belum menunjukkan pesimisme. Indeks ekspekstasi penjualan September berada di 148,3, masih jauh di atas 100, yang artinya pelaku usaha masih punya optimisme, meski angkanya turun dari 159,8.
Sementara, untuk Desember, indeks ini justru melonjak menjadi 171,6 karena adanya faktor musiman yaitu Perayaan Natal dan libur akhir tahun.
Kelas Menengah Masih Tahan Belanja
Kondisi sektor ritel sejalan dengan posisi kelas menengah yang mengalami kemerosotan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK).
Kelompok pengeluaran Rp3,1 juta-Rp4 juta per bulan mengalami kemerosotan IKK paling tajam. IKK kelompok ini turun 4,9 poin, dari 117,1 pada Juni menjadi 112,2 pada Juli. Penurunannya jauh lebih dalam dibandingkan penurunan IKK nasional yang hanya 1 poin.
Pelemahan tersebut terjadi pada kondisi ekonomi saat ini sekaligus ekspektasi ke depan. IKE kelompok ini turun 6,4 poin. Persepsi terhadap penghasilan saat ini turun 4,9 poin, ketersediaan lapangan kerja juga turun 5,7 poin, dan indeks pembelian barang tahan lama ikut anjlok 8,5 poin. Bahkan, indeks pembelian barang tahan lama kelompok ini turun ke 96,2, masuk zona pesimis.
Ketika rumah tangga mulai merasa kondisi ekonomi lebih berat, barang tahan lama (durable goods) akan menjadi salah satu pengeluaran pertama yang ditunda.
Mobil, peralatan rumah tangga, elektronik, atau kebutuhan lain yang bersifat diskresioner tidak harus dibeli hari ini. Konsuen rumah tangga bisa menunggu sampai kondisi pendapatan dan pekerjaan terasa lebih aman.
Oleh karena itu, penurunan tajam indeks pembelian durable goods dapat dibaca sebagai tanda meningkatnya kehati-hatian, bukan semata-mata perubahan sentimen.
Data kondisi keuangan konsumen memperkuat gambaran tersebut. Rasio konsumsi terhadap pendapatan secara nasional turun tipis dari 73,0% menjadi 72,7%, sementara porsi pendapatan yang digunakan untuk membayar cicilan meningkat.
(dsp)































