Logo Bloomberg Technoz

Rupiah Bertahan di Rp17.900-an/US$, Inflasi Jinak Angkat Sentimen

Tim Riset Bloomberg Technoz
03 August 2026 15:42

Pengunjung menukarkan mata uang dolar AS dan rupiah di tempat penukaran mata uang di Jakarta, Senin (27/7/2026) (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Pengunjung menukarkan mata uang dolar AS dan rupiah di tempat penukaran mata uang di Jakarta, Senin (27/7/2026) (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Rupiah menutup perdagangan Senin (3/8/2026) dengan penguatan, 0,06%. Meski relatif terbatas, toh rupiah berhasil mempertahankan posisinya di Rp17.990/US$, di bawah angka psikologis Rp18.000/US$. 

Penguatan rupiah bersamaan dengan meredanya harga minyak mentah dunia ke US$83,82/barel, dan indeks dolar Amerika Serikat (AS) yang reltif terpangkas ke 99,77.

Pernyataan bahwa AS dan Iran berencana kembali menggelar dialog utuk mencapai kesepakatan membuat sebagian besar mata uang Asia menguat. 


Won Korea Selatan memimpin penguatan di zona hijau, disusul peso Filipina, yen Jepang, baht Thailand. Lalu, penguatan yang lebih terbatas diikuti oleh rupee India, rupiah, dan dolar Singapura. 

Pergerakan mata uang Asia. (Bloomberg)

Selain tekanan eksternal yang mereda, sejumlah data ekonomi yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) tampaknya ikut memperkuat optimisme pelaku pasar terhadap prospek ekonomi domestik.