Logo Bloomberg Technoz

Jika nilai impor meningkat di tengah pelemahan rupiah, kebutuhan dolar AS untuk membiayai transaksi tersebut ikut melonjak. Biaya produksi berpotensi menjadi lebih mahal, risiko imported inflation meningkat, dan tekanan terhadap nilai tukar semakin besar.

Sementara, sinyal dari sektor ekspor terlihat belum sepenuhnya pulih dan menunjukkan bahwa permintaan global terhadap produk Indonesia belum kembali kuat.

Artinya, arus dolar yang masuk dari ekspor masih terbatas, sementara arus dolar yang keluar untuk membayar impor tetap besar. Ketidakseimbangan inilah yang jadi salah satu faktor fundamental di balik kerentanan rupiah dalam beberapa bulan terakhir. 

Kondisi tersebut mengingatkan bahwa yang menentukan stabilitas nilai tukar bukan cuma seberapa cepat ekonomi tumbuh, tapi juga bagaimana pertumbuhan tersebut dibiayai. 

Kala ekspansi ekonomi lebih banyak bergantung pada impor dibandingkan kemampuan menghasilkan devisa melalui ekspor, tekanan terhadap neraca eksternal yang meningkat tak terhindarkan.

Sebagai catatan, neraca perdagangan Indonesia mencatat defisit sebesar US$1,61 miliar pada Mei 2026. Ini merupakan defisit pertama sejak April 2020. 

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan pada awal bulan lalu, penyebab defisit terbesar adalah defisit komoditas migas sebesar US$3,76 miliar yang berasal dari komoditas minyak dan minyak mentah.

Untuk Juni, konsensus Bloomberg menghasilkan median proyeksi neraca perdagangan Indonesia defisit US$756 juta. Masih minus, tetapi ada perbaikan ketimbang bulan sebelumnya.

Harga minyak mentah yang tetap tinggi meningkatkan nilai impor energi Indonesia, sementara penguatan dolar AS membuat rupiah semakin rentan terhadap arus keluar modal.

Meski begitu, inflasi domestik diperkirakan masih relatif terkendali. Konsensus Bloomberg menghasilkan median proyeksi inflasi Juli di 3,16% secara bulanan (month-to-month/mtm), melambat dari inflasi sebelumnya 3,34% mtm. 

Dalam kondisi seperti ini, prioritas Bank Indonesia (BI) kemungkinan tetap berfokus pada menjaga stabilitas nilai tukar melalui intervensi di pasar valas dan mempertahankan kebijakan moneter yang relatif ketat. 

Meski demikian, belum semua sinyal bersifat negatif. Perbaikan ekspor dari kontraksi 5,73% menuju hampir nol menunjukkan bahwa permintaan eksternal mulai membaik.

Jika tren ini berlanjut pada semester kedua, sementara impor tetap didominasi oleh barang modal dan bahan baku produktif, maka ekspansi impor saat ini dapat menjadi fondasi bagi peningkatan kapasitas produksi dan ekspor pada periode berikutnya.

Namun, hingga skenario tersebut benar-benar terwujud, rupiah sepertinya masih akan menghadapi tantangan berat.

(dsp/aji)

No more pages