Logo Bloomberg Technoz

Pergerakan tersebut terjadi setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan meningkatkan konflik dengan Iran menyusul serangan kelompok Houthi terhadap dua kapal tanker minyak Arab Saudi di Laut Merah, yang memicu kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan energi global.

Kenaikan harga energi kembali memunculkan kekhawatiran bahwa inflasi akan bertahan lebih lama, sehingga dapat mempersulit arah kebijakan Federal Reserve (The Fed) menjelang rapat pekan depan. Pasar uang kini sepenuhnya memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga paling lambat September, dengan investor mencermati apakah kenaikan harga minyak akan merembet ke inflasi yang lebih luas dan laba perusahaan.

"Eskalasi ketegangan di Timur Tengah telah mendorong harga minyak mentah naik, sehingga memicu kekhawatiran bahwa inflasi bisa kembali meningkat, menunda pelonggaran suku bunga, bahkan mungkin memaksa The Fed menaikkan suku bunga," kata Sameer Samana dari Wells Fargo Investment Institute. "Kami memperkirakan harga minyak pada akhirnya akan kembali normal, tetapi kami juga menyadari situasi bisa memburuk sebelum akhirnya membaik."

Eskalasi terbaru juga semakin menekan rantai pasok energi global. Pertempuran di sekitar Iran telah mengganggu pelayaran melalui Selat Hormuz, jalur utama menuju Teluk Persia, sementara serangan di Laut Merah mengancam jalur alternatif yang selama ini diandalkan Arab Saudi untuk menjaga kelancaran ekspor minyak mentah.

Pasar juga dibayangi serangkaian serangan di terminal Caspian Pipeline Consortium di pesisir Laut Hitam, Rusia, yang menjadi jalur ekspor utama minyak Kazakhstan. Persediaan energi global telah terkuras akibat konflik yang berlangsung selama berbulan-bulan, sehingga meningkatkan risiko kekurangan pasokan yang berpotensi membebani perekonomian dunia apabila harga energi terus meningkat.

"Putaran kedua konflik militer ini akan lebih luas dibandingkan putaran pertama," ujar Bob McNally, Presiden Rapidan Energy Group sekaligus mantan pejabat Gedung Putih, dalam wawancara dengan Bloomberg Television mengenai perang Iran. "Risikonya sangat besar, bukan hanya terhadap jalur pelayaran, tetapi juga terhadap infrastruktur energi."

Di Eropa, Presiden Bank Sentral Eropa (European Central Bank/ECB) Christine Lagarde membuka peluang kenaikan suku bunga pada September setelah para pembuat kebijakan secara bulat memutuskan mempertahankan suku bunga deposito di level 2,25%.

Di pasar lainnya, harga emas turun hampir 2% menjadi sekitar US$4.050 per ons pada Kamis karena meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga mengurangi daya tarik logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil. Obligasi pemerintah Australia dan Selandia Baru juga melemah pada awal perdagangan Jumat.

Yen bertahan di level pelemahannya pada sesi sebelumnya, diperdagangkan di kisaran 163,83 per dolar AS, setelah indikator inflasi utama Jepang meningkat untuk pertama kalinya dalam tiga bulan terakhir. Kondisi tersebut membuat Bank of Japan tetap berada di jalur untuk kembali menaikkan suku bunga tahun ini.

Dari sisi kebijakan perdagangan, AS akan mengenakan tarif impor antara 10% hingga 12,5% terhadap barang dari sebagian besar mitra dagang utamanya. Langkah tersebut menjadi upaya terbesar sejauh ini untuk kembali membangun tembok tarif yang diusung Trump setelah sebelumnya sebagian kebijakan tarif dibatalkan Mahkamah Agung AS.

Sementara itu, kondisi geopolitik turut meningkatkan kehati-hatian investor terhadap prospek industri AI. Pasar kini semakin menuntut bukti bahwa belanja besar-besaran untuk pengembangan AI benar-benar mampu menghasilkan pertumbuhan laba yang sepadan. Saham Alphabet Inc. anjlok 7,1% setelah menaikkan proyeksi belanja modalnya, sedangkan Tesla Inc. merosot 15% karena laba perusahaan mengecewakan meskipun pengiriman kendaraan listrik meningkat tajam.

Selain Alphabet, Meta Platforms Inc, Microsoft Corp, dan Amazon.com Inc pada April lalu juga mengisyaratkan akan menggelontorkan belanja hingga US$725 miliar tahun ini untuk pengembangan AI.

"Masih terlalu dini dan kita akan melihat lebih banyak laporan keuangan dari perusahaan hyperscaler pekan depan," kata Kepala Strategi Pasar Miller Tabak, Matt Maley. "Karena itu, kita belum bisa menyimpulkan bahwa laporan keuangan mereka akan mendapat reaksi negatif seperti saham-saham chip. Namun kondisi ini jelas meningkatkan kekhawatiran terhadap fenomena sell the news."

Pergerakan utama pasar:

Saham

  • Kontrak berjangka S&P 500 relatif tidak berubah hingga pukul 09.04 waktu Tokyo.
  • Kontrak berjangka Hang Seng turun 1,3%.
  • Indeks Topix Jepang turun 1,1%.
  • Indeks S&P/ASX 200 Australia turun 0,6%.
  • Kontrak berjangka Euro Stoxx 50 turun 2%.

Mata uang

  • Indeks Bloomberg Dollar Spot relatif tidak berubah.
  • Euro stagnan di US$1,1377.
  • Yen Jepang stabil di 163,86 per dolar AS.
  • Yuan offshore relatif tidak berubah di 6,7770 per dolar AS.
  • Dolar Australia stagnan di US$0,6969.

Kripto

  • Bitcoin turun 0,2% menjadi US$64.996,87.
  • Ether turun 0,5% menjadi US$1.875,54.

Obligasi

  • Imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun relatif tidak berubah di 4,70%.
  • Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun naik 2,5 basis poin menjadi 2,795%.
  • Imbal hasil obligasi pemerintah Australia tenor 10 tahun naik tujuh basis poin menjadi 5,06%.

Komoditas

  • Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 0,2% menjadi US$92,40 per barel.
  • Harga emas spot relatif tidak berubah.

Artikel ini disusun dengan bantuan Bloomberg Automation

(bbn)

No more pages