Langkah tersebut diambil karena pembangunan PFII di Bali membutuhkan waktu persiapan sekitar dua hingga tiga tahun.
Menurutnya, pemerintah tidak ingin menunggu seluruh proses pembangunan di Bali selesai untuk mulai menjalankan konsep pusat keuangan internasional. Oleh karena itu, Jakarta akan menjadi lokasi operasional sementara selama masa transisi.
"Tapi kan perlu ada persiapan mungkin selama 2 atau 3 tahun sampai itu menjadi suatu financial center yang bertaraf internasional," katanya.
Rosan menjelaskan, keberadaan pusat keuangan internasional tersebut diharapkan mampu meningkatkan daya tarik Indonesia di mata investor global.
Bahkan, respons awal dari para calon investor disebut sangat positif.
Dia mengungkapkan, beberapa hari lalu dirinya bertemu dengan 11 investor yang berasal dari kalangan family office dan investor internasional saat berkunjung ke Bali. Pertemuan tersebut membahas rencana pengembangan Indonesia International Financial Center.
"Sebelumnya beberapa hari yang lalu saya juga ke Bali, bertemu dengan 11 para investor dari family office dan lainnya, dan responnya sudah sangat-sangat positif mengenai keberadaan financial center yang akan ada di Indonesia ini," ungkapnya.
Selama masa transisi, pemerintah mempertimbangkan pengoperasian IIFC di Jakarta sambil mempersiapkan kawasan utama di Bali.
Selain menyiapkan lokasi operasional, pemerintah juga mulai menyusun berbagai aspek kelembagaan, termasuk penunjukan pimpinan kawasan yang nantinya akan memimpin Indonesia International Financial Center.
"Mungkin itu persiapan-persiapan termasuk persiapan untuk penunjukan apa nanti oleh Bapak Presiden dari istilahnya gubernurnya, kemudian pemimpin kawasan, dan yang lain-lainnya," tutur Rosan.
(mfd/ell)




























