“Pengolahan minyak mentah ESPO di kilang Indonesia tidak memerlukan belanja modal yang besar untuk mengganti reaktor atau melakukan modifikasi. Namun, diperlukan sejumlah penyesuaian pada operasi dan proses kimia di kilang,” kata Yayan ketika dihubungi, Rabu (22/7/2026).
Berikut beberapa kilang di Indonesia yang dinilai dapat mengolah minyak mentah ESPO tanpa penyesuaian atau blending lebih lanjut:
Kilang Balikpapan
Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan atau Kilang Balikpapan dengan kapasitas 360.000 barel per hari (bph) dinilai dapat mengolah minyak mentah ESPO, sebab dilengkapi Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC) dan berbagai unit hydroprocessing yang membuatnya lebih fleksibel mengolah berbagai jenis minyak mentah.
Kilang Cilacap
Yayan menjelaskan Kilang Cilacap menjadi salah satu fasilitas yang dapat mengolah ESPO secara langsung.
Kilang berkapasitas 348.000 barel per hari (bph) itu merupakan kompleks pengolahan yang dilengkapi dua unit distilasi, high vacuum unit (HVU), residual catalytic cracking (RCC), serta hydrocracker unit (HCU).
Kilang Balongan
Yayan menjelaskan Kilang Balongan yang memiliki kapasitas 125.000 bph mempunyai Nelson Complexity Index (NCI) sekitar 11,9 atau tertinggi di Indonesia, serta dilengkapi unit Atmospheric Residue Hydrodemetallization (ARHDM) yang dirancang untuk mengolah minyak mentah berkualitas lebih rendah dan berat.
Dengan spesifikasi tersebut, ESPO dinilai dapat diproses tanpa memerlukan tingkat pengolahan yang tinggi.
Metode Co-blending
Selain ketiga kilang tersebut, Yayan mengungkapkan Kilang Dumai dan Kilang Plaju dapat mengolah minyak mentah ESPO, tetapi melalui skema co-blending.
Pada kedua kilang tersebut, kata Yayan, minyak ESPO dapat dicampurkan sekitar 20% hingga 40% dengan kondensat domestik yang lebih ringan sebelum masuk ke proses pengolahan.
Sebelumnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan impor minyak mentah Rusia yang dilakukan Lemigas bakal disimpan pada tangki penyimpanan atau storage tank untuk dijadikan cadangan penyangga energi (CPE).
Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung menyatakan bakal mengecek terlebih dahulu volume impor yang dilakukan Lemigas, termasuk apakah benar bakal menuju Balikpapan atau lokasi lainnya.
Kendati begitu, dia menegaskan Lemigas yang mengeksekusi impor minyak mentah dari Rusia dan bakal dijadikan CPE dan dilakukan pencampuran atau blending.
“Untuk pengadaan minyak itu kan ada Indonesia Blend. Indonesia Blend itu kan minyak itu kan melalui supplier yang ada. Jadi supplier yang ada yang kita terima dalam negeri adalah dalam bentuk blending, Nusantara Blending,” kata Yuliot kepada awak media, di Kompleks DPR, Kamis (16/7/2026).
Dilaporkan Bloomberg Technoz sebelumnya, minyak mentah asal Rusia jenis ESPO terdeteksi telah memasuki Indonesia melalui Pelabuhan Lawe-Lawe usai diangkut melalui kapal tanker Sierra berbendera Kamerun.
Berdasarkan data Big Trade Data, sebanyak 770.000 barel minyak telah dikirim ke pelabuhan di Kalimantan Timur tersebut pada 29 Juni 2026, dengan nilai sekitar US$75 juta.
Untuk diketahui, Pelabuhan Lawe-Lawe merupakan salah satu pintu masuk crude ke Kilang Balikpapan. PT Pertamina Patra Niaga (PPN) tercatat memiliki dua tangki penyimpanan minyak mentah di terminal Lawe-Lawe dengan kapasitas masing-masing 1 juta barel.
Selain itu, PPN juga memiliki fasilitas single point mooring (SPM) dengan kapasitas 320.000 dead weight ton (dwt). Fasilitas SPM tersebut tersambung dengan pipa ke pelabuhan Lawe-Lawe dan dari pelabuhan tersebut menuju Kilang Balikpapan.
Berdasarkan pantauan data pelayaran Marine Traffic, tanker Sierra telah meninggalkan Lawe-Lawe pada 30 Juni 2026. Saat ini tanker tersebut sudah berada kembali ke area labuh jangkar di Pelabuhan Vladivostok, Rusia.
Kapal pengangkut minyak mentah tersebut tercatat terkena sanksi oleh sejumlah negara, antara lain, di antaranya: Inggris, Uni Eropa (UE), Kanada, Australia, Ukraina, hingga Selandia Baru.
Adapun, Pertamina mengendalikan bisnis penyulingan minyak lewat subholding hilir Pertamina Patra Niaga. Saat ini, Pertamina mengoperasikan enam kilang dengan kapasitas pengolahan mencapai 1 juta barel per hari.
Sejumlah kilang itu termasuk refinery unit (RU) II Dumai dengan kapasitas 170.000 bph, RU III Plaju berkapasitas 126.000 bph, RU IV Cilacap berkapasitas 348.000 bph, RU V Balikpapan berkapasitas 360.000 bph, RU VI Balongan berkapasitas 150.000 bph, dan RU VII Kasim berkapasitas 10.000 bph.
(wdh)






























