“Jika sanksi benar dikenakan, maka akan berlaku ke seluruh ekspor kita ke AS khususnya tekstil, alas kaki, elektronik, furnitur, udang, sawit dan ini sama dengan menutup pasar ke AS. Namun, secara ekonomi ini akan merugikan konsumen AS,” tegas dia.
Kemungkinan Diskresi
Meskipun begitu, Ishak menilai masih terdapat kemungkinan diskresi yang diberikan ke negara-negara tertentu, termasuk Indonesia.
Dia menilai Indonesia memiliki hubungan yang relatif baik dengan AS, sebab terdapat kesepakatan resiprokal yang diteken.
Dia menyatakan Indonesia telah memiliki komitmen impor minyak mentah, gas minyak cair atau liquified petroleum gas (LPG), dan bensin dari AS.
“Jadi yang perlu dilakukan memastikan diversikasi ke Nigeria, Angola, dan Timur Tengah sehingga Rusia sebagai pelengkap dan bukan sumber utama. Lalu mendorong peningkatan produksi yang saat ini sudah dibawah di bawah target 610.000 barel per hari,”ujar Ishak.
Sekadar informasi, seorang pejabat Gedung Putih menyebut Presiden AS Donald Trump berencana mendukung RUU sanksi Rusia yang diperjuangkan oleh mendiang Senator Lindsey Graham.
Akan tetapi, Trump belum menegaskan akan meratifikasi rancangan undang-undang tersebut, ketika ditanya oleh seorang reporter pada Senin (13/7/2026) malam waktu setempat.
“Kami sedang membicarakannya,” kata Trump. “Kami akan segera memutuskan hal itu.”
CNN sebelumnya melaporkan bahwa Trump mendukung undang-undang tersebut. Namun, belum jelas bagaimana rancangan undang-undang baru ini akan berbeda dari upaya legislatif sebelumnya.
Rancangan undang-undang Graham awalnya diajukan pada April tahun lalu, ketika dia menyerukan sanksi yang “menghancurkan” Rusia.
Versi itu akan memberi wewenang kepada Trump untuk mengenakan apa yang disebut tarif sekunder setinggi 500% pada negara-negara yang membeli energi Rusia.
Gedung Putih menentang pengesahan undang-undang sanksi Rusia sebelumnya, dengan alasan bahwa RUU itu akan melemahkan upaya diplomatik untuk mengakhiri perang yang dilancarkan Kremlin terhadap negara tetangganya.
Adapun, menurut data bea cukai yang dikumpulkan oleh Big Trade Data dan dilansir Bloomberg News, hampir 770.000 barel minyak telah dikirim ke pelabuhan Balikpapan pada 29 Juni, nilainya sekitar US$75 juta.
Pelabuhan muat yang terdaftar adalah Kozmino di Rusia, dan minyak tersebut diangkut dengan kapal tanker Sierra.
Kargo Rusia tersebut dibeli oleh badan pemerintah yang dikenal sebagai Lemigas, yang tanggung jawab utamanya ialah menguji bahan bakar.
Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung menyebut minyak mentah yang diimpor dari Rusia akan dilakukan pencampuran atau blending menjadi Indonesia Blend.
Dia menyatakan pengadaan minyak mentah yang dilakukan Indonesia bisa dilakukan dengan skema Indonesia Blend, yakni minyak mentah yang diterima dari pemasok merupakan pasokan hasil pencampuran.
Yuliot juga memastikan impor minyak mentah Rusia yang dilakukan Lemigas bakal disimpan pada tangki penyimpanan atau storage tank untuk dijadikan cadangan penyangga energi (CPE).
Kendati begitu, dia belum dapat mengungkapkan lokasi storage yang bakal digunakan untuk menyimpan minyak Rusia.
“Untuk pengadaan minyak itu kan ada Indonesia Blend. Indonesia Blend itu kan minyak itu kan melalui supplier yang ada. Jadi supplier yang ada yang kita terima dalam negeri adalah dalam bentuk blending, Nusantara Blending,” kata Yuliot kepada awak media, di Kompleks DPR, Kamis (16/7/2026).
“Kalau untuk kerja sama antarnegara itu mekanismenya adalah melalui BLU sektor energi, jadi kalau BLU sektor energi itu ada yang ini Lemigas,” tegasnya.
(azr/wdh)































