Logo Bloomberg Technoz

Riuh Kelangkaan BBM Pertalite, Mitigasi Pertamina Dipertanyakan

Azura Yumna Ramadani Purnama
17 July 2026 16:40

Petugas yang mengenakan masker pelindung menunggu pelanggan di SPBU Pertamina Persero PT di Jakarta, Indonesia./Bloomberg-Dimas Ardian
Petugas yang mengenakan masker pelindung menunggu pelanggan di SPBU Pertamina Persero PT di Jakarta, Indonesia./Bloomberg-Dimas Ardian

Bloomberg Technoz, Jakarta – Center of Reform on Economics (Core) mempertanyakan langkah mitigasi pemerintah dan PT Pertamina (Persero) dalam mengantisipasi peralihan konsumsi (BBM) nonsubsidi Pertamax ke Pertalite, yang bahkan telah menyebabkan kelangkaan dan antrean panjang di wilayah Sumatra Utara.

Direktur Eksekutif Core Mohammad Faisal menilai disparitas harga antara Pertamax dan Pertalite yang mencapai Rp6.250/liter membuat masyarakat lebih memilih membeli BBM bersubsidi alih-alih jenis bahan bakar umum (JBU) atau nonsubsidi.

Fenomena migrasi tersebut, padahal, sejatinya sudah diprediksi banyak ekonom usai harga Pertamax naik drastis 32,1% dari Rp12.300/liter menjadi Rp16.250/liter sejak Juni.


“[Hal yang] belum diantisipasi itu adalah bahwa kenaikan yang nonsubsidi terlalu tinggi. Makin tinggi kenaikannya, itu meningkatkan kemungkinan konsumen beralih lebih banyak lagi dari [BBM] nonsubsidi ke [BBM] bersubsidi,” kata Faisal ketika dihubungi, Jumat (17/7/2026).

Konsumen membeli Pertalite di SPBU Pertamina./Bloomberg-Dimas Ardian

Dia menilai jika pemerintah dan Pertamina tidak segera mengatasi persoalan tersebut, roda perekonomian di daerah dapat terdampak, sebab mobilitas masyarakat dan pelaku usaha menjadi terganggu.