Adi menyatakan tidak memiliki informasi, fakta, maupun kejadian material lainnya yang belum diungkapkan kepada publik dan dapat memengaruhi harga saham maupun kelangsungan usaha INDY.
Perseroan turut memaparkan bahwa berdasarkan laporan keuangan konsolidasian per 31 Maret 2026, PT Kideco Jaya Agung masih menjadi kontributor utama terhadap kinerja Indika Energy. Dari total pendapatan konsolidasian sebesar US$493,2 juta, Kideco menyumbang US$377,4 juta atau sekitar 72,8% dari pendapatan kotor konsolidasian. Sementara itu, Kideco membukukan laba bersih sebesar US$42,4 juta, ketika laba bersih konsolidasian Indika Energy tercatat US$7 juta.
Mengenai profil pendapatan perseroan apabila divestasi Kideco terealisasi, termasuk segmen usaha yang akan menjadi kontributor utama pengganti bisnis batu bara tersebut, Adi kembali menyatakan bahwa perseroan enggan memberikan komentar.
Sebelumnya, Bloomberg News melaporkan Indika Energy tengah mengevaluasi sejumlah opsi strategis atas portofolio investasinya, termasuk kemungkinan melepas kepemilikan di PT Kideco Jaya Agung. Kideco merupakan salah satu produsen batu bara terbesar di Indonesia sekaligus penyumbang utama pendapatan INDY.
Mengutip sumber yang mengetahui pembahasan tersebut, Indika Energy telah menunjuk penasihat keuangan untuk mengkaji berbagai alternatif, termasuk potensi divestasi aset tersebut. Perseroan juga disebut mulai melakukan penjajakan awal dengan sejumlah calon investor strategis untuk mengukur minat terhadap Kideco.
Laporan itu menyebut nilai transaksi berpotensi melampaui US$1 miliar. Namun, proses masih berada pada tahap awal dan belum ada keputusan final. Struktur transaksi, valuasi, maupun aset yang akan dilepas masih dapat berubah. Indika Energy juga disebut masih memiliki opsi untuk tidak melanjutkan divestasi apabila dinilai belum sesuai dengan pertimbangan strategis perusahaan.
(dhf)






























