Wahyudi berjanji antrean yang belakangan terjadi, khususnya di wilayah Sumatra, bakal segera terurai dalam waktu 1—2 hari ke depan.
“Saat ini kita semua terus berjuang keras untuk normalisasi dan paling lama 1 sampai 2 hari kedepan, insyaallah semua akan terurai dan cukup lancar kembali. Ini hanya masalah panic buying, ini hanya masalah kondisi yang kurang perhatian dari seluruh masyarakat yang sama-sama mengantre di SPBU-SPBU sekitarnya,” ujarnya.
Sebelum itu, Wahyudi melaporkan penyaluran JBKP Pertalite sepanjang 1 Januari—30 Juni 2026 mencapai 13,96 juta kiloliter (kl) atau mencapai 47,68% dari kuota 2026 sebanyak 29,27 juta kl.
Sementara itu, penyaluran JBT Solar mencapai 9,48 juta kl pada periode yang sama, atau 50,85% dari kuota penyaluran sepanjang tahun ini sejumlah 18,64 juta kl.
Dia menyatakan permintaan bahan bakar bersubsidi Pertalite dan Solar sama-sama mengalami kenaikan usai harga Pertamax Series dan Dex Series naik bulan lalu. Walhasil, terdapat peralihan konsumsi sebagian kalangan masyarakat dari BBM nonsubsidi ke BBM bersubsidi.
Penjelasan Pertamina
Pada kesempatan yang sama, Direktur Pemasaran PT Pertamina Patra Niaga (PPN) Eko Ricky Susanto mengamini terjadinya perubahan pola konsumsi BBM dari jenis nonsubsidi menjadi bersubsidi.
Hal itu terefleksi dari volume penyaluran Pertalite yang naik 9,4% pada Juli dibandingkan dengan periode normal Januari—Mei 2026. Para rentang yang sama, serapan Pertamax justru turun 18%.
Eko menjelaskan rerata penyaluran Pertalite pada Juli 2026 naik 9,4% atau sekitar 7.129 kl per hari dari rerata normal, sementara Pertamax series turun 18% atau sekira 4.476 kl per hari dari rerata normal.
Eko juga mencatat pangsa konsumsi Pertalite pada periode tersebut naik 4,9% atau dari 75,4% menjadi 80,4%. Sebaliknya, pangsa Pertamax turun 4,4% menjadi 18,4% dari sebelumnya 23,2%.
“Perubahannya pada saat periode Januari—Mei untuk produk JBKP Pertalite, secara komposisi, [dari] sekitar 75% saat ini sudah bergeser ke 80%. Jadi hampir 5% komposisi BBM gasoline itu sudah bergeser ke BBM PSO [bersubsidi]. Dampaknya adalah saat ini produk-produk BBM JBU [nonsubsidi] khususnya Pertamax series terjadi penurunan [konsumsi] hampir 18% dibandingkan dengan periode sebelumnya,” kata Eko.
Dalam bahan paparannya dijelaskan tren peralihan konsumsi BBM nonsubsidi ke bersubsidi terjadi usai penyesuaian harga Pertamax pada 10 Juni 2026 sebesar 32% menjadi Rp16.250 per liter.
Selain itu, Eko melaporkan rerata penyaluran JBT Solar pada Juli 2026 naik 13,9% atau 6.725 kl per hari dari rerata normal. Dalam waktu yang sama, penyaluran produk gasoil atau diesel nonsubsidi Dex Series turun 6,4% atau 232 kiloliter per hari dari rerata normal.
Dengan begitu, proporsi konsumsi JBT Solar naik 1,2% menjadi 94,2% dari sebelumnya 93%. Sebaliknya, Dexlite turun 0,6% menjadi 3,5% dari sebelumnya 4,1%.
"Perilaku ini selain juga perubahan shifting dari konsumen ke sektor kendaraan juga ada beberapa sektor kendaraan yang didominasi industri juga mulai mengisi ke biosolar di SPBU. Ini salah satu terjadi peningkatan lonjakan hampir di semua provinsi sepanjang periode April hingga bulan Juli,” tegasnya.
Akhir-akhir ini, sejumlah kalangan masyarakat melaporkan sulit mendapatkan pasokan BBM bersubsidi Pertalite di SPBU Pertamina wilayah Medan, Sumatra Utara dan Ketapang, Kalimantan Barat.
Seorang warganet bernama Wandy mengungkapkan cukup banyak SPBU Pertamina yang mengalami kekosongan stok Pertalite di wilayah Medan. Dia menyatakan puluhan SPBU di wilayah tersebut sedang tidak menyediakan Pertalite.
“Fakta lapangan tidak demikian. Puluhan SPBU terutama Kota Medan mengalami kekosongan BBM dari hari Jumat [pekan lalu] sampai sekarang,” tulis Wandy di kolom komentar Pertamina Sumbagut, Selasa (14/7/2026).
Tak hanya Wandy, warganet lainnya juga turut melaporkan BBM jenis Pertalite sulit didapatkan di wilayah Sumatra Utara.
“Minyak [Pertalite] langka [di] Sumut,” tulis warganet bernama Fadel. “Langka BBM di Sumut, tolong Bang,” tulis Rinaldi dalam kolom komentar yang sama.
Di sisi lain, kondisi serupa juga dilaporkan terjadi di Ketapang, Kalimantan Barat. Bahkan, Pemerintah Kabupaten Ketapang telah memanggil pengelola SPBU Pertamina di Ketapang dan perwakilan Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas (Hiswana Migas).
Bupati Kabupaten Ketapang Alexander Wilyo mengaku banyak mendapatkan laporan dari masyarakat bahwa terjadi kelangkaan Pertalite di wilayahnya. Lalu, terjadi antrean yang sangat panjang di sejumlah SPBU yang masih tersedia BBM bersubsidi tersebut.
(wdh)




























