Dalam bahan paparan Eko, dijelaskan bahwa tren peralihan konsumsi BBM nonsubsidi ke bersubsidi terjadi usai penyesuaian harga Pertamax pada 10 Juni 2026 sebesar 32% menjadi Rp16.250 per liter.
Konsumsi Solar
Selain itu, Eko melaporkan rerata penyaluran Solar pada Juli 2026 naik 13,9% atau 6.725 kl per hari dari rerata normal.
Dalam waktu yang sama, produk Dex Series penyalurannya turun 6,4% atau 232 kl per hari dari rerata normal.
Dengan begitu, prorporsi Solar dalam serapan bahan bakar diesel Pertamina mencapai 94,2% atau naik 1,2% dari sebelumnya 93%. Sementara itu, proporsi Dexlite menjadi 3,5% atau turun 0,6% dari sebelumnya 4,1%.
"Perilaku ini selain juga perubahan shifting dari konsumen ke sektor kendaraan juga ada beberapa sektor kendaraan yang didominasi industri juga mulai mengisi ke biosolar di SPBU. Ini salah satu terjadi peningkatan lonjakan hampir di semua provinsi sepanjang periode April hingga bulan Juli,” tegasnya.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengklaim pasokan BBM bersubsidi jenis Pertalite dalam kondisi aman, sehingga kelangkaan Pertalite yang terjadi di Sumatra Utara dan Kalimantan Barat terjadi gegara kendala teknis.
Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung menyatakan kementerian telah mengevaluasi penyaluran BBM di seluruh wilayah dan menginstruksikan Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas (BPH Migas) serta PT Pertamina (Persero) untuk mengecek kendala yang terjadi.
Dia menyatakan masalah yang ditemukan ihwal hambatan transportasi dari terminal BBM ke stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) yang berada di wilayah, sementara stok dan keandalan pasokan diklaim aman.
“[Hal] yang pertama, ketersediaan BBM di terminal terpadu. Ini pengiriman itu relatif lancar. Kemudian distribusi dari terminal terpadu ke SPBU-SPBU ada hambatan transportasi atau bagaimana. Ya, kita juga sudah turunkan tim ke lapangan. Jadi, untuk ini ya kita akan selesaikan permasalahan ada antrean-antrean di SPBU di beberapa daerah,” kata Yuliot kepada awak media, di Kompleks DPR RI, Kamis (16/7/2026).
Belakangan ini, sejumlah kalangan masyarakat melaporkan sulit mendapatkan pasokan BBM bersubsidi Pertalite di SPBU Pertamina wilayah Medan, Sumatra Utara dan Ketapang, Kalimantan Barat.
Seorang warganet bernama Wandy mengungkapkan cukup banyak SPBU Pertamina yang mengalami kekosongan stok Pertalite di wilayah Medan. Dia menyatakan puluhan SPBU di wilayah tersebut sedang tidak tersedia Pertalite.
“Fakta lapangan tidak demikian. Puluhan SPBU terutama kota medan mengalami kekosongan BBM dari hari Jumat [pekan lalu] sampai sekarang,” tulis Wandy di kolom komentar Pertamina Sumbagut, Selasa (14/7/2026).
Tak hanya Wandy, warganet lainnya juga turut melaporkan BBM jenis Pertalite sulit didapatkan di wilayah Sumatra Utara.
“Minyak [Pertalite] langkah [di] Sumut,” tulis warganet bernama Fadel. “Langkah BBM di Sumut, tolong Bang,” tulis Rinaldi dalam kolom komentar yang sama.
Di sisi lain, kondisi serupa juga dilaporkan terjadi di Ketapang, Kalimantan Barat. Bahkan, Pemerintah Kabupaten Ketapang telah memanggil pengelola SPBU Pertamina di Ketapang dan perwakilan Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas (Hiswana Migas).
Bupati Kabupaten Ketapang Alexander Wilyo mengaku banyak mendapatkan laporan dari masyarakat bahwa terjadi kelangkaan Pertalite di wilayahnya.
Lalu, terjadi antrean yang sangat panjang di sejumlah SPBU yang masih tersedia BBM bersubsidi tersebut.
Sekadar informasi, harga BBM RON 92 atau Pertamax melonjak hingga 32% pada 10 Juni 2026 menjadi Rp16.250/liter.
Direktur Kebijakan Publik Center of Economic and Law Studies (Celios) Media Wahyudi Askar berpendapat kebijakan tersebut berpotensi memaksa masyarakat berpindah menggunakan BBM bersubsidi yakni Pertalite, sehingga berpotensi menambah beban subsidi dan kompensasi energi.
Dia menilai masyarakat dihadapkan pilihan untuk membayar Pertamax lebih mahal atau membeli Pertalite dengan harga Rp10.000/liter.
“Pengguna Pertamax 92 bukan cuma orang kaya, tetapi juga kelas menengah rentan. Ada pekerja, pegawai, guru, ojol, dan jutaan kelas menengah yang selama ini memilih BBM yang lebih baik untuk kendaraannya. Ketika margin kenaikannya terlalu jauh, opsinya adalah membayar lebih mahal, atau turun ke Pertalite,” kata Media dalam siaran pers, Rabu (10/6/2026).
(azr/wdh)





























