Logo Bloomberg Technoz

"Anda harus membayangkan situasi ini seperti kebakaran," kata Ihekweazu. "Kami telah menyaksikan pertumbuhan kasus tercepat dalam satu bulan sejak wabah ini dimulai, bahkan dibandingkan dengan seluruh wabah Ebola yang pernah kami tangani."

Data total kumulatif kasus Ebola sejak pertengahan Mei 2026. (Sumber: National Institute of Public Health, Democratic Republic of Congo)

Tingkat kematian kasus (case fatality rate/CFR) kasar meningkat menjadi 37% dari 32% sepekan sebelumnya. Menurut WHO, tren ini mencerminkan masih adanya keterlambatan dalam diagnosis, isolasi, dan akses terhadap perawatan, bukan karena penyakit menjadi lebih mematikan. Analisis WHO terhadap 430 kematian terkonfirmasi menunjukkan sekitar 92% korban meninggal sebelum sempat mencapai fasilitas perawatan.

"Kami harus menemukan kasus lebih awal dan membawa pasien ke fasilitas perawatan secepat mungkin agar dapat mengurangi penularan di masyarakat," kata Ihekweazu. "Semakin lama kasus tetap berada di masyarakat, semakin banyak virus menyebar, dan semakin jauh kami tertinggal dalam mengendalikan wabah."

Pasien Menghindari Perawatan

Memastikan pasien tetap menjalani perawatan juga menjadi tantangan besar. Lebih dari 240 orang telah melarikan diri dari pusat perawatan atau fasilitas isolasi Ebola selama wabah berlangsung, termasuk 100 orang dalam sebulan terakhir. Kondisi ini menunjukkan besarnya tantangan yang dihadapi otoritas kesehatan dalam meyakinkan pasien agar tetap menjalani perawatan.

Upaya penanganan wabah juga semakin tertekan. Fasilitas isolasi di Provinsi Kivu Utara kini beroperasi dengan tingkat keterisian lebih dari 120%, sementara kegiatan pemakaman yang aman di Rwampara—wilayah yang telah mencatat lebih dari 400 kasus terkonfirmasi—terganggu karena tim pemakaman belum menerima pembayaran, menurut otoritas kesehatan.

Keterbatasan kapasitas fasilitas perawatan juga membuat sebagian pasien enggan mencari pengobatan. "Orang-orang sering mengatakan kepada kami bahwa mereka lebih memilih menunggu di rumah dan baru datang ketika tempat tidur sudah tersedia," kata Sylvie Kaczmarczyk, koordinator kedaruratan Médecins Sans Frontières (MSF) di Bunia, ibu kota provinsi yang menjadi pusat wabah.

Menurutnya, Pusat Perawatan Ebola Elikiya yang memiliki 90 tempat tidur "hampir selalu beroperasi dengan kapasitas penuh."

"Akibatnya, kami terus menerima pasien yang datang terlambat dan kondisinya sudah sangat kritis," ujarnya dalam sebuah pernyataan.

Data wilayah dengan jumlah kematian terbanyak akibat Ebola. (Sumber: Pemerintahan Republik Kongo)

International Rescue Committee (IRC) memperingatkan bahwa wabah Ebola kini memburuk di dua sisi sekaligus, yakni penularan yang semakin cepat di wilayah-wilayah yang sudah menjadi titik panas (hotspot) serta penyebaran ke daerah baru yang meningkatkan risiko penularan lintas batas ke Sudan Selatan.

"Risiko bagi Sudan Selatan sangat mengkhawatirkan," kata Bob Kitchen, Wakil Presiden Bidang Kedaruratan IRC, dalam sebuah pernyataan. "Jika Ebola menyeberangi perbatasan, virus ini dapat menyebar secara diam-diam sebelum terdeteksi, sehingga penanganannya akan menjadi jauh lebih rumit dan menempatkan banyak nyawa dalam bahaya."

Wabah ini juga telah mencapai Kisangani, kota berpenduduk sekitar 1,5 juta jiwa di tepi Sungai Kongo yang menjadi penghubung antara wilayah timur Kongo dan ibu kota Kinshasa.

Kesulitan Bernapas

Para dokter juga tengah menyelidiki apakah Bundibugyo—jenis virus Ebola yang memicu wabah saat ini—memiliki karakteristik klinis yang berbeda dibandingkan dengan anggota keluarga virus filovirus lainnya, termasuk Marburg. Kesulitan bernapas dilaporkan dialami sekitar sepertiga pasien yang terkonfirmasi terinfeksi di Bundibugyo, menurut laporan yang diterbitkan di New England Journal of Medicine bulan lalu.

"Bundibugyo tampaknya memiliki komponen gangguan pernapasan yang biasanya tidak kami temui pada penyakit filovirus lainnya," kata Armand Sprecher, dokter spesialis kedaruratan dan epidemiolog dari Médecins Sans Frontières (MSF), setelah tiba di Bunia.

Menurutnya, pasien datang "dengan kesulitan bernapas" dan membutuhkan suplai oksigen lebih banyak daripada yang biasanya diberikan oleh tenaga medis.

Selain kemungkinan dampak langsung virus terhadap paru-paru, gangguan pernapasan juga bisa disebabkan oleh infeksi berat yang diperparah oleh kondisi yang umum ditemukan di wilayah timur Kongo, seperti malaria, anemia, dan malnutrisi. Kondisi-kondisi tersebut mengurangi kemampuan tubuh mengangkut oksigen sehingga bahkan kerusakan paru-paru yang relatif ringan pun dapat menjadi jauh lebih berbahaya, kata Craig Spencer, dokter spesialis kedokteran darurat yang pernah menangani pasien Ebola selama epidemi Afrika Barat pada 2014–2016.

(bbn)

No more pages