Logo Bloomberg Technoz

Setali tiga uang, kondisi tersebut juga terjadi pada rupiah yang masih terbebani oleh twin deficit terdiri dari desifit fiskal dan transaksi berjalan. 

Fiskal RI pada pertengahan tahun mencatat kenaikan pengeluaran sebesar 17,8% secara tahunan menjadi Rp1.656 triliun atau setara 43,1% dari pagu APBN 2026. Akselerasi belanja pemerintah pusat yang mencapai 29,4% secara tahunan menjadi pendorong utama, termasuk kenaikan belanja kementerian dan lembaga sebesar 40%. 

Namun, menurut Samuel Sekuritas dalam catatannya, peningkatan belanja tersebut masih didominasi oleh pengeluaran yang kurang produktif, seperti pemberian bonus hari raya bagi aparatur sipil negara, gaji ke-13, serta lonjakan belanja subsidi sebesar 44% untuk meredam dampak pelemahan nilai tukar rupiah. 

"Meski defisit anggaran hingga pertengahan tahun baru mencapai 0,76% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), pemerintah dalam revisi proyeksi APBN memperkirakan defisit sepanjang 2026 akan melebar menjadi 2,85% PDB, atau sekutar Rp734,3 triliun, melampaui target awal APBN yang ditetapkan sebesar 2,68%," kata Samuel Sekuritas dalam laporannya. 

Samuel Sekuritas menambahkan, konsentrasi penyaluran belanja pada paruh kedua tahun ini berpotensi memicu inefisiensi hambatan birokrasi dalam penyerapan anggaran, serta mempercepat pengurasan Saldo Anggaran Lebih (SAL), yang selama ini menjadi bantalan fiskal pemerintah. 

Di tengah kondisi tersebut, pergerakan rupiah diperkirakan masih berada dalam tekanan. Sentimen global yang mendominasi membuat investor cenderung mengalihkan dana ke aset safe haven seperti dolar AS dan obligasi pemerintah AS. 

Meski indeks dolar AS sedikit menyusut 0,15% sore ini, namun posisinya masih bertahan tinggi di level 100,8. Di sisi lain, yield US Treasury tenor 2 tahun terkerek naik 1,3 bps menjadi 4,22%, dan tenor 10 tahun naik 1 bps menjadi 4,57%. 

Pada saat yang sama, lonjakan harga minyak terus memperburuk prospek negara-negara pengimpor minyak, seperti Indonesia lantaran adanya tekanan terhadap neraca perdagangan migas, inflasi, serta defisit transaksi berjalan. 

(dsp)

No more pages