Mencermati 'Suasana Kebatinan' Kelas Menengah Terdidik
Redaksi
10 July 2026 07:27

Bloomberg Technoz, Jakarta - Di balik angka Survei Konsumen Bank Indonesia (BI) yang dirilis Rabu (8/7/2026), tersemat portret kelas menengah yang sedang resah menghadapi kondisi ekonomi. Selama ini, kelas menengah kerap dipandang sebagai jangkar perekonomian Indonesia. Kelompok ini menjadi motor konsumsi rumah tangga, penyerap kredit perbankan, sekaligus kelompok yang menopang pertumbuhan sektor ritel, properti, hingga jasa.
Namun, Survei Konsumen kali ini menunjukkan retaknya keyakinan kelompok yang menjadi penyangga konsumsi domestik. Menariknya, dalam survei ini juga terlihat bahwa semakin tinggi jenjang pendidikan konsumen, semakin tajam penurunan optimisme terhadap kondisi ekonomi saat ini.
Tentu, sinyal ini tak bisa dianggap sebagai gejolak sementara. Pelemahan keyakinan kelas menengah, khususnya kelompok tenaga kerja berpendidikan tinggi, mencerminkan meningkatnya kekhawatiran terhadap kondisi pasar tenaga kerja yang kian kompetitif serta terbatasnya peluang ekonomi untuk meningkatkan kesejahteraan. Di sisi lain, fenomena keresahan kelas menengah ini juga memotret betapa peluang kerja di sektor formal kini kian menyempit.
Kelas Menengah Terdidik
Kelompok akademi/diploma dan pascasarjana sama-sama mencatat penurunan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) sebesar 6,6 poin dalam sebulan, sementara kelompok sarjana turun 6,3 poin. Sebaliknya, optimisme masyarakat berpendidikan SMA hanya turun 2,1 poin. Pola ini menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan, semakin besar pula kekhawatiran terhadap prospek ekonomi.



























