Fenomena ini bukan kebetulan belaka. Kelompok berpendidikan tinggi umumnya bekerja di sektor formal, punya akses informasi yang lebih luas terhadap dinamika ekonomi-sosial-politik, lebih sensitif terhadap perubahan kebijakan moneter, dan kondisi pasar tenaga kerja. Saat kelompok ini mulai menahan konsumsi dan menurunkan ekspektasi terhadap masa depan, hal tersebut mencerminkan meningkatnya persepsi risiko terhadap perekonomian.
Contohnya, di kelompok pascasarjana, Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini turun 7,9 poin, dan menjadi penurunan terdalam dibanding kelompok pendidikan lain. Persepsi terhadap ketersediaan lapangan kerja juga mereosot tajam 8,9 poin, sementara ekspektasi terhadap lapangan kerja enam bulan mendatang turun hingga 11,2 poin. Kelompok ini juga mengalami penurunan indeks pembelian barang tahan lama yang anjlok sebesar 14,1 poin.
Pembelian barang tahan lama (durable goods) seperti kendaraan, elektronik, maupun properti, biasanya menjadi indikator awal perubahan perilaku konsumsi rumah tangga. Ketika masyarakat menunda pembelian besar, mereka sesungguhnya sedang melakukan penyesuaian terhadap ketidakpastian pendapatan di masa depan.
Dengan kata lain, kelas menengah tak lagi sekadar mengurangi pengeluaran. Lebih dari itu, kelompok ini sedang mengubah strategi keuangannya dengan mengutamakan likuiditas dan menghindari komitmen utang jangka panjang.
Di saat yang sama, kelompok diploma menunjukkan penurunan optimisme terbesar terhadap masa depan. Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) turun 8,3 poin, ekspektasi kegiatan usaha turun 9 poin, dan ekspektasi lapangan kerja ikut merosot 11 poin.
Kelompok pendidikan ini umumnya bekerja di sektor formal yang bergerak dalam manufaktur, perdagangan, logistik, dan jasa, yang mayoritas bergantung pada aktivitas ekonomi domestik.
Kelompok sarjana pun menghadapi tekanan serupa. Penilaian terhadap Pendapatan Saat Ini turun sebesar 8,1 poin. Sementara, persepsi terhadap ketersediaan lapangan kerja melemah 8,3 poin. Ini menunjukkan bahwa tekanan ekonomi mulai dirasakan langsung oleh pekerja profesional yang selama ini menjadi penopang konsumsi kelas menengah.
Pesan yang disematkan oleh responden dalam survei ini cukup jelas, bahwa ketidakpastian ekonomi mulai menggerus rasa percaya diri kelompok produktif yang terdidik.
Pemicu Keresahan
Untuk diketahui, perubahan psikologi ekonomi ini tak muncul dalam ruang hampa. Sejumlah tekanan dalam indikator makroekonomi memang muncul secara bersamaan.
Seperti, suku bunga yang masih bertahan tinggi lebih lama, seiring BI sebagai otoritas moneter berupaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Konsekuensinya jelas, biaya kredit jadi lebih mahal dan membuat rumah tangga cenderung menunda pembelian rumah, kendaraan, maupun barang konsumsi yang bernilai besar.
Pada saat yang sama, pasar tenaga kerja belum sepenuhnya pulih. Aktivitas perekrutan terlihat tersendat dan melambat, lantaran perusahaan lebih berhati-hati dalam melakukan ekspansi karena permintaan yang belum solid. Hal ini sejalan dengan data Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur yang kembali terkontraksi ke 46,9 pada Juni.
Tentu, bagi pekerja profesional, situasi ini meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan pekerjaan maupun prospek kenaikan pendapatan.
Di sisi lain, tekanan eksternal juga tak kunjung mereda. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang kembali mendorong kenaikan harga minyak, pelemahan rupiah hingga menyentuh level psikologisnya lagi di atas Rp18.000/US$ semakin menambah daftar panjang ketidakpastian yang harus dihadapi pelaku usaha maupun konsumen rumah tangga.
Dalam kondisi ini, kelas menengah tentu saja akan bersikap defensif dengan meningkatkan porsi tabungan, dan mengurangi belanja diskresioner. Namun sikap ini secara agregat dapat semakin memperlambat konsumsi domestik yang selama ini jadi penopang utama pertumbuhan ekonomi. Sebab, sikap menunda belanja yang dilakukan kelas menengah ini dapat berdampak pada perlambatan di sektor ritel, manufaktur, otomotif, properti, hingga jasa.
Efek rambatan ini telah terlihat pada Indeks Penjualan Ritel (IPR) yang dirilis BI pada Kamis (9/7/2026). IPR tercatat turun 3,5 poin, menjadi 223,4 pada Mei, dibanding April yang sebesar 226,9. BI juga memperkirakan IPR akan kembali turun jadi 221,6 pada Juni, sehingga dalam dua bulan indeks yang memotret daya beli masyarakat telah menyusut 5,3 poin atau sekitar 2,3% dari posisi April.
Kelas Menengah Butuh Perhatian
Potret keresahan kelas menengah yang tersemat dalam data Survei Konsumen kali ini seharusnya menjadi lampu kuning para pengambil kebijakan bahwa kondisi konsumsi dan ekonomi domestik sedang tidak baik-baik saja. Jika tidak, maka sejumlah paket stimulus telah diluncurkan untuk mendongrak pertumbuhan ekonomi tahun ini bisa jadi belum tepat sasaran.
Selain itu, pemerintah perlu mengembalikan optimisme lewat penciptaaan lapangan kerja berkualitas, kepastian arah kebijakan, dan iklim usaha yang bisa mendorong investasi dan ekspansi sektor formal.
Sebab, jika keresahan kelas menengah dibiarkan terus berlarut, yang melemah bukan cuma daya beli hari ini, tapi juga perputaran ekonomi yang ditopang oleh konsumsi kelompok ini, sekaligus basis penerimaan pajak dari aktivitas ekonomi mereka.
(dsp/aji)





























