Logo Bloomberg Technoz

Menyusul publikasi data ekonomi tersebut, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah China tenor 10 tahun terpantau stabil di level 1,73%. Di pasar valuta asing, mata uang yuan di pasar domestik (onshore) menguat tipis 0,1% terhadap dolar AS, menjadikannya mata uang dengan kinerja terbaik di Asia pada perdagangan Kamis ini.

Pasar obligasi dan mata uang yuan China relatif stabil dalam beberapa pekan terakhir, di saat pasar keuangan di negara-negara lain justru tertekan oleh penguatan dolar AS serta meningkatnya spekulasi bahwa bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) akan menaikkan suku bunga acuan.

China kemungkinan besar telah berhasil keluar dari zona deflasi ekonomi secara menyeluruh pada kuartal lalu, setelah sempat terjebak selama tiga tahun berturut-turut. Pembalikan arah ini sebagian besar dipicu oleh masifnya investasi di sektor kecerdasan buatan (AI) serta guncangan harga minyak yang bersumber dari konflik di Timur Tengah.

Namun, terlepas dari adanya reli harga minyak, chip, dan logam di tingkat global, keberlanjutan pemulihan inflasi secara luas masih diragukan. Hal ini disebabkan karena pihak produsen masih kesulitan untuk membebankan kenaikan biaya produksi tersebut sepenuhnya kepada konsumen akibat masih lesunya daya beli masyarakat, yang pada gilirannya menekan profitabilitas perusahaan.

Indeks IHK inti, yang menyelisik dan mengeluarkan komponen bergejolak seperti harga bahan pangan dan energi, turun ke angka 1% pada bulan Juni. Angka pertumbuhan ini merupakan laju paling lambat sejak Januari lalu.

Kembalinya tekanan inflasi di negara dengan sektor manufaktur terbesar di dunia itu berpotensi memicu dampak inflasi ke berbagai negara. Harga ekspor China saat ini juga meningkat dengan laju tercepat sejak awal 2023, berbalik arah setelah bertahun-tahun mengalami kontraksi yang hampir tidak terputus.

(bbn)

No more pages