Sebelumnya pada perdagangan Rabu (8/7/2026), IHSG ditutup melemah 113,12 poin atau 1,89% ke level 5.873.
Koreksi tersebut terjadi setelah indeks mencatatkan penguatan selama lima hari berturut-turut, dipicu aksi ambil untung di tengah meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah yang turut mendorong kenaikan harga minyak dunia.
Selain itu, pasar juga mencermati keputusan S&P DJI yang menempatkan Indonesia dalam status pemantauan (watchlist), sehingga berpotensi diturunkan dari kelompok emerging market menjadi frontier market.
Phintraco menyebut, perkembangan tersebut berpotensi memengaruhi arus modal asing ke pasar domestik.
"Dengan adanya peringatan beberapa lembaga internasional terhadap investasi di pasar modal Indonesia telah menimbulkan capital outflow karena berkurangnya kepercayaan investor asing," lanjut riset tersebut.
Di sisi lain, Tim Riset Pilarmas Investindo Sekuritas menilai volatilitas pasar masih akan tinggi seiring memanasnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran.
Eskalasi konflik tersebut kembali mengangkat harga minyak mentah sekaligus meningkatkan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi global.
Pilarmas juga menyoroti risalah rapat The Fed yang menunjukkan sebagian pejabat bank sentral AS mulai membuka peluang kenaikan suku bunga tahun ini.
"Beberapa indeks saham global yang sudah mengalami kenaikan memiliki ruang untuk mengalami penurunan. Namun IHSG mungkin akan mengalami tekanan ke bawah," demikian dikutip dari riset harian Pilarmas.
Adapun, potensi kenaikan tingkat suku bunga Fed Rate akan memberikan tekanan yang lebih besar bagi capital outflow untuk keluar lebih banyak apabila Bank Indonesia tidak segera meresponsnya dengan menaikkan tingkat suku bunga.
Indeks komposit turut ditekan Indeks Kepercayaan Konsumen Indonesia (IKK) yang turun ke level 117,8 pada Juni 2026. Data IKK melambat dibandingkan dengan torehan Mei 2026 di level 120,9.
IKK pada Juni 2026 ini juga menjadi yang terendah sejak September tahun 2025 atau dalam sembilan bulan aktivitas, hingga menandai penurunan selama dua bulan berturut-turut.
“Penurunan IKK mengindikasikan daya beli dan optimisme masyarakat mulai melambat,” dikutip dari catatan BRI Danareksa.
(cpa/naw)



























