Pasokan listrik berbasis energi terbarukan ini secara langsung akan membantu Singapura dalam menekan angka emisi karbon mereka demi mencapai target iklim global.
"Green energy premium itu misalnya begini; itu [Singapura] mendapatkan manfaat dengan mendapatkan listrik hijau dari Indonesia, mendapat green electricity dari Indonesia [sehingga] dia bisa memangkas emisi kan. Jadi sebenarnya listrik kita itu ada green premium-nya. Nah, mungkin green premium itu yang harus dimasukkan ke dalam harga tadi," jelasnya.
Adapun, terkait dengan nominal atau angka pasti dari formula tersebut, Fabby menyerahkan sepenuhnya kepada kalkulasi teknis pemerintah dan pihak swasta terkait.
Namun, dia menekankan struktur harga yang ideal harus terdiri dari biaya investasi, margin keuntungan yang wajar, serta tambahan green premium.
"Nah, berapa besarannya? Itu silakan dihitung. [Hal] yang jelas, kita ada aspek green premium tadi dari harga yang tadi yang dibilang harga wajar plus margin ya. Marginnya kejar untuk investasi plus kasih green premium. Nah, itu mungkin yang bisa jadi formula ya," pungkas Fabby.
Untuk diketahui, green premium adalah selisih biaya antara produk, teknologi, ataupun layanan ramah lingkungan dengan alternatif konvensional yang berbasis fosil atau bahan lain yang kurang bersifat berkelanjutan.
Adapun, green premium adalah biaya tambahan yang harus disesuaikan untuk memilih opsi yang lebih hijau dengan tujuan mengurangi dampak lingkungan.
Sebelumnya, Pemerintah Indonesia masih mematangkan regulasi terkait harga ekspor listrik hijau ke Singapura. Langkah ini diambil guna memastikan kerja sama energi tersebut memberikan keuntungan yang adil bagi kedua belah pihak.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan proses negosiasi tarif saat ini masih berjalan dinamis.
Mengingat kewenangan penentuan tarif berada di tangan pemerintah, Indonesia berkomitmen untuk tidak terburu-buru menyepakati angka sebelum mencapai titik keseimbangan yang saling menguntungkan.
"Terkait dengan harga listrik ke Singapura, proses tahapannya berjalan, tetapi kan kita masih negosiasi tentang harga. Regulasi kita kan memang harga itu ada di pemerintah. Kita ingin ada win-win, saling menguntungkan. Kerja sama itu harus saling menguntungkan," ujar Bahlil di Istana Negara, Senin (6/7/2026).
Saat ditegaskan mengenai status kesepakatan harga saat ini, Bahlil secara terbuka mengakui nilai komersial yang ada di meja perundingan belum ideal bagi kepentingan nasional.
Meski demikian, Bahlil optimistis bahwa kebuntuan harga ini akan segera terurai dalam waktu dekat melalui pembahasan yang intensif.
"Tinggal di titik itu saja. Saya pikir sebentar lagi akan ada titik temu kok. Kita ingin semuanya harus punya manfaat yang win-win lah untuk kedua belah pihak," tambah Bahlil.
Secara total, terdapat tiga poin besar yang disepakati dalam kerja sama bilateral tersebut. Selain pengiriman listrik ramah lingkungan, kerja sama juga mencakup pembangunan infrastruktur pendukung di dalam negeri.
"Ada tiga MoU kita. Satu adalah ekspor listrik ke Singapura, listrik hijau. Kedua adalah kawasan industri hijau. Ketiga adalah untuk storage CCS [carbon capture and storage]-nya. Itu kan merupakan satu kesatuan yang kita tandatangani tahun kemarin," jelasnya.
Di sisi lain, CEO BPI Danantara Rosan Perkasana Roeslani mengungkap Indonesia telah meneken nota kesepahaman (MoU) dalam proyek ekspor listrik dari energi baru terbarukan (EBT) secara jangka panjang ke Singapura.
MoU tersebut ditandatangani oleh Danantara, Keppel Electric, dan Sembcorp yang dimiliki Temasek Holdings.
"Ini adalah proyek jangka panjang dan akan dipastikan ini juga memberikan dampak yang win-win lah terhadap kedua negara," ujar Rosan ditemui awak media di Istana, Senin (6/7/2026).
Rosan menjelaskan skema ekspor listrik tersebut bahwa Danantara bersama pihak swasta akan membangun pembangkit baru dari sumber energi terbarukan yang akan mengekspor listrik ke Singapura.
"Nah, tadi Bapak Presiden mengamanatkan untuk Danantara bersama-sama nanti dengan dunia usaha, dengan private sector untuk membangun [...] ini kan sudah lama sebenarnya, sudah empat tahunlah ya lebih. Untuk supaya kerja sama ini bisa terlaksana," jelas dia.
Rosan menambahkan pembangkit yang akan menyalurkan listrik ke Singapura tersebut akan dibangun di wilayah Batam, Bintan, dan Karimun. Total kapasitasnya sebesar 3,4 gigawatt, di mana pembangunan pertama antara 600 megawatt hingga 1,2 gigawatt.
"Ya, nanti salah satu lokasinya kita lihat dari situ [Batam] ya. Akan pengembangan juga untuk BBK ya tadi, Batam, Bintan, Karimun," ungkapnya.
Menurut Rosan, ketiga perusahaan yang terlibat—Danantara, Keppel Electric, dan Sembcorp—akan berperan sebagai offtaker.
(smr/wdh)






























