Logo Bloomberg Technoz

Lifestyle Index milik bank tersebut memberi peringkat kepada 25 kota dengan menganalisis inflasi harga 20 barang dan layanan mewah, seperti properti hunian, mobil, tiket penerbangan kelas bisnis, biaya sekolah, serta makan malam degustation (menu pencicipan). Survei ini melibatkan wawancara terhadap 360 individu beraset tinggi (high-net-worth individuals) yang memiliki aset rumah tangga yang dapat diinvestasikan (bankable household assets) senilai sedikitnya US$1 juta pada periode Februari hingga Maret 2026.

Bagi individu beraset tinggi, biaya untuk mempertahankan gaya hidup premium telah meningkat secara signifikan dalam 12 bulan terakhir. Menurut laporan tersebut, indeks tahun ini naik rata-rata 10,2% dalam denominasi dolar AS. Lonjakan harga emas juga tercermin dalam indeks, dengan harga perhiasan naik 16,4% dan jam tangan meningkat 15,5%.

Dubai turun ke peringkat ke-14 dalam pemeringkatan tersebut. Namun, Julius Baer mengatakan penurunan itu lebih mencerminkan kenaikan biaya hidup di kota-kota lain, bukan karena pusat keuangan tersebut menjadi lebih terjangkau. Bank asal Swiss itu juga mencatat bahwa "banyak hal telah berubah" di Timur Tengah sejak data indeks dikumpulkan, yakni sebelum konflik Iran. Akibatnya, prospek bagi penduduk serta individu dan keluarga yang memiliki mobilitas internasional kini "menjadi kurang jelas."

Sydney mencatat kenaikan terbesar dalam peringkat tahun ini dengan melompat enam posisi ke peringkat kedelapan. Julius Baer mengaitkan hal itu antara lain dengan kuatnya dolar Australia serta "isolasi geografis" negara tersebut, yang membuat biaya impor barang-barang premium lebih tinggi sehingga mendorong posisi Sydney dalam daftar.

Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun terakhir, tidak ada kota di kawasan Amerika yang masuk dalam daftar 10 besar. Hal ini terutama disebabkan oleh pelemahan dolar AS terhadap mata uang utama lainnya, meskipun harga-harga di tingkat lokal mengalami kenaikan yang kuat. Meski demikian, Amerika Utara tetap mencatat akumulasi kekayaan yang solid sepanjang tahun lalu, dengan 47% individu beraset tinggi melaporkan peningkatan nilai aset yang "sangat besar."

(bbn)

No more pages