Selain itu, Ardhasena mengatakan sistem tekanan tinggi yang bertahan lama tersebut juga menarik massa udara yang sangat panas dan kering dari Gurun Sahara di Afrika Utara menuju Eropa. Massa udara panas itu kemudian menyebar ke sejumlah wilayah, mulai dari Semenanjung Iberia, Prancis, Inggris, hingga kawasan Balkan.
Meski demikian, BMKG menilai faktor meteorologi bukan satu-satunya penyebab. Ardhasena menyebut perubahan iklim global akibat meningkatnya emisi gas rumah kaca turut memperparah gelombang panas yang terjadi.
"Fenomena tekanan tinggi sebenarnya merupakan hal yang umum terjadi pada musim panas. Namun, pemanasan global telah meningkatkan suhu dasar atmosfer sehingga ketika pola cuaca seperti Blok Omega muncul, suhu yang dihasilkan menjadi jauh lebih ekstrem dibandingkan beberapa dekade lalu," katanya.
Ia menambahkan Eropa saat ini tercatat sebagai benua yang mengalami laju pemanasan paling cepat di dunia. Kondisi tersebut membuat kawasan itu lebih rentan mengalami gelombang panas dengan intensitas dan durasi yang semakin tinggi dibandingkan periode sebelumnya.
(dec)






























