"Heat dome ini seperti tutup panci yang menjebak udara panas di dekat permukaan bumi. Awan sulit terbentuk sehingga sinar matahari terus memanaskan permukaan tanah dari hari ke hari," jelasnya.
Faktor kedua adalah masuknya massa udara panas dari kawasan Afrika, khususnya Gurun Sahara. Kondisi tersebut mendorong kenaikan suhu secara signifikan di berbagai negara Eropa hingga melampaui 40 derajat Celcius.
Sementara faktor ketiga yang dinilai paling mendasar adalah perubahan iklim akibat emisi gas rumah kaca.
Dicky mengatakan pemanasan global telah meningkatkan suhu dasar bumi sehingga gelombang panas menjadi lebih intens, berlangsung lebih lama, dan menjangkau wilayah yang lebih luas dibandingkan beberapa dekade sebelumnya.
"Gelombang panas Eropa pada Juni 2026 ini secara praktis hampir tidak mungkin terjadi tanpa pengaruh perubahan iklim yang disebabkan oleh aktivitas manusia," katanya.
Ia menambahkan, berdasarkan pembahasan dalam konferensi Global Health Security, One Health, Planetary Health yang baru diikutinya di Australia, para ahli menilai perubahan iklim menjadi faktor yang memperkuat kejadian cuaca ekstrem di berbagai belahan dunia.
Selain itu, Eropa juga merupakan benua yang mengalami pemanasan paling cepat, yakni sekitar dua kali lebih cepat dibandingkan rata-rata global.
Meski demikian, Dicky menegaskan gelombang panas seperti yang terjadi di Eropa tidak akan terjadi dalam bentuk yang sama di Indonesia.
Namun, ia mengingatkan bahwa Indonesia tetap menghadapi risiko peningkatan panas ekstrem sebagai dampak perubahan iklim. Karena itu, upaya mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim perlu terus diperkuat untuk mengurangi dampaknya terhadap kesehatan masyarakat dan lingkungan.
(dec)































