Logo Bloomberg Technoz

Selain itu, peningkatan penggunaan transportasi umum dari 16% saat ini menjadi 40% pangsa perjalanan juga dapat menurunkan emisi hingga 101 juta ton karbon dioksida pada 2060.

Di sisi lain, analisis IESR juga menunjukkan peningkatan mandatori biodiesel hingga B60 diproyeksikan mampu mengurangi emisi sekitar 88 juta ton pada 2060.

“Namun, estimasi tersebut belum memperhitungkan emisi akibat perubahan penggunaan lahan. Temuan ini menegaskan bahwa implementasi biodiesel saja akan memberikan dampak yang  lebih kecil bagi penurunan emisi,” ungkap Fabby dalam catatan yang dilansir medio pekan lalu.

Dengan rencana Pemerintah Indonesia untuk menerapkan mandatori B50 pada 1 Juli 2026, IESR mengingatkan bahwa kebijakan ini masih memerlukan evaluasi menyeluruh.

Fabby mengatakan kebijakan blending dapat diterima sebagai strategi transisi dan khususnya jangka pendek, terutama untuk mengurangi impor solar. Namun, B50 tidak seharusnya menjadi strategi utama transisi energi jangka panjang.

“Dibandingkan dengan  penerapan B50, elektrifikasi sektor transportasi, dan penerapan standar efisiensi bahan bakar merupakan strategi yang lebih efektif dalam mencapai ketahanan dan kemandirian energi,” jelasnya.

Fabby mengatakan setiap kebijakan ada dampak dan biayanya. Kebijakan percepatan penerapan B50 dibuat saat krisis energi karena penutupan Selat Hormuz pada akhir Februari yang memicu harga minyak melonjak dan impor minyak Indonesia terganggu.

“Pemerintah perlu melihat penerapan B50 secara menyeluruh, tidak hanya dari sisi pengurangan impor solar, tetapi juga dari dampaknya terhadap biaya, pasokan bahan baku, harga pangan, petani kecil, dan lingkungan,” ujar Fabby. 

Konsekuensi ke Sawit

IESR juga mengingatkan adanya konsekuensi lintas sektor dari perluasan mandatori biodiesel.

Dalam kaitan itu, peningkatan kebutuhan minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) untuk B50 dapat berdampak pada pasokan bahan baku untuk sektor pangan, harga minyak goreng, inflasi, serta kesejahteraan petani kecil. 

Selain itu, peningkatan permintaan bahan baku juga perlu diantisipasi agar tidak mendorong tekanan baru terhadap daya dukung lingkungan dan tata kelola lahan.

“IESR menilai dasar ekonomi penerapan B50 perlu dievaluasi kembali karena kondisi yang mendasarinya telah berubah. Harga minyak dunia dan risiko gangguan impor minyak telah menurun, diversifikasi pasokan impor mulai dilakukan, dan produksi solar dari kilang dalam negeri,” jelasnya.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan Indonesia berpotensi menghemat anggaran subsidi hingga puluhan triliun rupiah per tahun melalui penerapan kebijakan B50 yang mulai berlaku pada 1 Juli 2026.

Kebijakan B50 diproyeksikan mampu menghemat subsidi hingga Rp48 triliun serta menekan impor BBM hingga 4 juta kiloliter per tahun.

Selain itu, mandatori B50 juga bertujuan mendukung keberlanjutan serta meningkatkan ketahanan energi nasional terhadap gejolak harga energi global.

“Dalam satu tahun, bahkan dalam enam bulan saja, sudah ada penghematan dari penggunaan bahan bakar fosil dan juga penghematan subsidi dari biodiesel yang diperkirakan mencapai Rp48 triliun,” ujar Airlangga, ditulis Rabu (8/4/2026).

Sementara itu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan bahwa tahun ini Indonesia tidak perlu lagi mengimpor solar karena B50 sudah berjalan.

“Besok Juli akan kita resmikan B50, itu menyelamatkan wajah Indonesia dari ketergantungan impor solar kita. Mulai tahun ini kita tidak lagi melakukan impor solar,” ujar Bahlil dalam agenda Energy Forum CNBC Indonesia, Kamis (25/6/2026).

Bahlil menjelaskan konsumsi solar nasional saat ini mencapai sekitar 39 juta kiloliter (kl) per tahun. Sebelumnya, pemerintah telah menerapkan program biodiesel 40% (B40) yang memanfaatkan fatty acid methyl ester (FAME) berbahan baku CPO.

“Dari 39 juta kiloliter itu kemarin B40, itu 40% pakai FAME. FAME itu adalah dari CPO dengan metanol dicampur, jadilah FAME. Kemudian dicampur menjadi solar yang namanya B40,” jelasnya.

Adapun, melalui implementasi B50, Bahlil menyebut Indonesia dapat menutup hingga setengah dari total konsumsi harian solar domestik yang setara 700.000 barel.  

"Jadi dengan B50 ini 50%, kan konsumsi kita 50% dari solar itu kurang lebih sekitar 300.000 barrel per day yang bisa kita cover. Jadi artinya impor crude kita yang 1 juta barrel per day itu tinggal sekitar 700.000 barrel per day, karena 300.000 barelnya itu dikonversi dengan B50, FAME itu," terangnya.

(smr/wdh)

No more pages