Logo Bloomberg Technoz

Dia menilai keputusan Pertamina menahan harga Pertamax pada 1 Juli 2026 dipengaruhi oleh kondisi kas perusahaan pelat merah tersebut. Faisal memandang keputusan tersebut murni mempertimbangkan kelancaran arus kas Pertamina belaka.

Nah, sekarang harga minyaknya sudah sangat turun, bahkan di bawah WTI [West Texas Intermediate] itu di bawah US$70/barel,” tegas dia.

Dihubungi terpisah, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celio) Bhima Yudhistira menilai keputusan Pertamina untuk tidak menurunkan harga Pertamax pada Juli 2026 menandakan tidak konsistennya kebijakan yang diambil oleh pemerintah dalam menetapkan harga BBM.

Menurutnya, harga minyak mentah dunia terus turun sejak Pertamax naik menjadi Rp16.250/liter, tetapi harga BBM nonsubsidi tersebut tak kunjung mengalami penyesuaian.

Bhima menilai inkonsistensi tersebut mengakibatkan inflasi energi melejit, hingga dampak lanjutannya berdampak terhadap inflasi pangan.

“Artinya masyarakat selain harus membayar lebih mahal BBM Pertamax, juga masyarakat yang terdampak inflasi meski bukan pengguna BBM nonsubsidi ikut menanggung akibat negatifnya,” kata Bhima.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi pada bulan Juni tercatat sebesar 0,44% secara bulanan atau month to month (mtm). Artinya, terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 111,40 pada Mei 2026 menjadi 111,89 pada Juni 2026.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menjelaskan inflasi secara tahun berjalan atau year to date (ytd) tercatat sebesar 1,79%. 

“Kelompok pengeluaran penyumbang inflasi bulanan terjadi pada transportasi yakni 2,29%. kelompok tranportasi memberi andil inflasi 0,28% kata," ujar Ateng dalam konferensi pers BPS, Rabu (1/7/2026).

Perinciannya, komoditas yang dominan mendorong inflasi adalah kenaikan bensin dengan andil inflasi sebesar 0,21%. Selain itu, tarif angkutan udara juga memiliki andil 0,05% sementara oli mesin memiliki andil 0,01% terhadap inflasi.

Menurut Ateng, beberapa hal yang menjadi pendorong inflasi dari sektor transportasi ini adalah dengan adanya dua kali kenaikkan BBM nonsubisidi yang terjadi pada 1 juni 2026 dan 10 juni 2026.

Sementara itu, kenaikan untuk tarif angkutan udara terutama didorong oleh meningkatnya permintaan seiring dengan adanya periode libur sekolah pada bulan Juni.

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede memprediksi harga keekonomian Pertamax mencapai Rp16.444/liter, jika mengacu pada formulasi penetapan harga serta dinamika harga minyak mentah dan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Josua mencatat realisasi harga minyak mentah Brent sepanjang tahun berjalan di sekitar US$87,9/barel dan rata-rata nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sepanjang tahun berjalan sebesar Rp17.195/US$.

Dari besaran tersebut, dia mengalkulasi harga keekonomian Pertamax atau bensin RON 92 sekitar Rp16.444/liter alias memiliki selisih sekitar Rp194/liter, dibandingkan dengan harga Pertamax periode Juni 2026 sebesar Rp16.250/liter.

“Dengan asumsi rata-rata Brent sepanjang tahun berjalan US$87,9/barel dan rata-rata USD/IDR Rp17.195, perhitungan interpolasi dalam dokumen menunjukkan harga keekonomian Pertamax atau bensin RON 92 sekitar Rp16.444/liter,” kata Josua.

Josua memandang jika dasar penyesuaian harga pada periode Juli 2026 masih memakai rata-rata sepanjang tahun berjalan, belum terdapat ruang besar untuk harga Pertamax turun pada bulan ini.

Adapun, Pertamina resmi menyesuaikan sejumlah harga BBM, pada hari ini, Rabu (1/7/2026). Harga BBM RON 92 atau Pertamax tetap ditahan Pertamina seharga Rp16.250/liter, usai mengalami kenaikan pada 10 Juni.

Di sisi lain, harga BBM RON 98 atau Pertamax Turbo turun Rp1.450/liter menjadi Rp19.300/liter dari harga bulan sebelumnya sebesar Rp20.750/liter.

Sementara itu, BBM jenis diesel atau solar nonsubsidi Pertamina terpantau juga mengalami penurunan harga. Pertamina Dex saat ini dibanderol seharga Rp21.150/liter atau turun Rp3.650/liter, dari harga bulan sebelumnya sebesar Rp24.800/liter.

Selanjutnya, Dexlite saat ini dijual seharga Rp19.700/liter atau turun Rp3.300/liter, jika dibandingkan dengan harga pada Juni 2026 senilai Rp23.000/liter.

Pada 10 Juni 2026, Pertamina resmi menaikkan harga Pertamax menjadi Rp16.250/liternya di DKI Jakarta. Angka tersebut naik Rp3.950 apabila dibandingkan dengan harga awal sebesar Rp12.300/liter.

Pertamina Patra Niaga mengungkapkan kenaikan harga Pertamax menjadi Rp16.250/liter pada 10 Juni 2026 belum sepenuhnya mengikuti harga pasar, sebab penyesuaian yang dilakukan baru sekitar 50% dari selisih harga keekonomian.

Sekadar informasi, minyak Brent untuk pengiriman September turun 1,1% menjadi US$70,80/barel pada pukul 12:05 siang hari ini di Singapura. Minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Agustus turun 1,2% menjadi US$67,78/barel.

(azr/wdh)

No more pages