Wall Street Melemah Imbas Lonjakan Harga Minyak & Yield Obligasi
News
18 August 2026 05:20

Emily Forgash - Bloomberg News
Bloomberg, Bursa saham Amerika Serikat (AS) merosot pada hari Senin (17/8) seiring berlanjutnya tren kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (Treasury) tenor panjang dan menguatnya harga minyak mentah. Di sisi lain, saham produsen semikonduktor mencatatkan penguatan setelah rincian pertumbuhan penjualan Anthropic memicu sentimen positif (bullish) terhadap sektor kecerdasan buatan (AI).
Indeks S&P 500 terkoreksi 0,5% di New York, sementara indeks Nasdaq 100 yang didominasi saham teknologi menghapus kenaikan di awal perdagangan hingga ditutup melemah 0,2%, meskipun saham produsen semikonduktor seperti Intel Corp dan Micron Technology, Inc menguat. Penurunan ini menandai kerugian dua hari berturut-turut untuk kedua indeks tersebut, di tengah kenaikan harga minyak mentah Brent ke level US$91 per barel dan imbal hasil Treasury 10-tahun AS yang merangkak naik ke posisi 4,73%.
Eskalasi konflik baru di Timur Tengah menjadi fokus utama para pelaku pasar pada hari Senin. Prospek perdamaian mengalami hambatan baru setelah Donald Trump menyatakan tidak tertarik memperpanjang nota kesepahaman (MoU) dengan Iran yang akan segera berakhir, di saat pertempuran kembali memanas di Lebanon. Sementara itu, lonjakan harga minyak akibat perang turut memicu kekhawatiran inflasi yang mendorong kenaikan imbal hasil obligasi acuan.
"Situasi di Timur Tengah sangat mengkhawatirkan, dan imbal hasil nota Treasury AS tenor 10-tahun kembali terdorong ke atas level 4,7%," kata Matt Maley, kepala ahli strategi pasar di Miller Tabak + Co. "Bahkan, dengan imbal hasil jangka panjang yang tetap tinggi setelah dirilisnya data inflasi pekan lalu yang cenderung melandai, hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi para investor."





























