Logo Bloomberg Technoz

Rupiah Solid Setelah BI Hawkish, Sejauh Apa Bisa Menguat?

Tim Riset Bloomberg Technoz
19 June 2026 07:14

Karyawan menunjukkan mata uang rupiah dan dolar AS di tempat penukaran mata uang, Jakarta, Selasa (12/5/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Karyawan menunjukkan mata uang rupiah dan dolar AS di tempat penukaran mata uang, Jakarta, Selasa (12/5/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Nilai kontrak rupiah di pasar Non-Deliverable Forwards (NDF) menunjukkan sinyal yang lebih konstruktif pada pembukaan perdagangan Jumat (19/6/2026). Setelah dibuka stabil di kisaran Rp17.840 per dolar AS, rupiah offshore kemudian menguat 0,25% ke level Rp17.795 per dolar AS pada pukul 06:19 WIB.

Pergerakan ini memperpanjang tren penguatan yang terjadi dalam beberapa hari terakhir, setelah Bank Indonesia (BI) kembali menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,75%. Dengan kenaikan itu, total pengetatan moneter BI sejak Mei 2026 telah mencapai 100 basis poin, salah satu yang paling agresif di Asia tahun ini.

BI Rate (Bloomberg)

Menguatnya rupiah di pasar offshore menunjukkan bahwa pelaku pasar mulai merespons positif kombinasi kebijakan moneter yang lebih ketat dan stabilisasi pasar yang dilakukan BI.


Dari sisi domestik, terdapat beberapa faktor yang mulai mendukung stabilisasi rupiah. Pertama, langkah agresif BI berhasil memperlebar selisih suku bunga terhadap Federal Funds Rate menjadi sekitar 200 basis poin. Diferensial tersebut meningkatkan daya tarik aset rupiah di tengah persaingan ketat dengan instrumen keuangan global.

Kedua, BI secara konsisten menunjukkan komitmennya menjaga stabilitas nilai tukar. Kenaikan suku bunga yang dilakukan dalam tiga kesempatan berbeda sejak Mei mengirimkan pesan kuat bahwa bank sentral tidak akan membiarkan pelemahan rupiah berlangsung tanpa respons kebijakan yang memadai.