Logo Bloomberg Technoz

Ketiga, tekanan harga energi global mulai mereda dibandingkan puncaknya ketika konflik Iran memicu kekhawatiran gangguan pasokan minyak. Harga minyak yang kembali bergerak di bawah US$80 per barel membantu mengurangi risiko lonjakan inflasi impor dan memperbaiki prospek neraca perdagangan Indonesia.

Namun faktor eksternal masih menjadi penentu utama arah rupiah dalam jangka pendek. Federal Reserve di bawah kepemimpinan Kevin Warsh memang mempertahankan suku bunga di kisaran 3,5-3,75%, tetapi pesan yang ditangkap pasar justru cenderung hawkish. Proyeksi terbaru menunjukkan sembilan dari 19 pejabat The Fed kini memperkirakan setidaknya satu kali kenaikan suku bunga tambahan tahun ini.

Ekspektasi tersebut mendorong indeks dolar AS kembali bertahan di atas 100,84, berdasarkan data Bloomberg per 06:16 WIB. Kuatnya dolar AS menjaga imbal hasil US Treasury tetap tinggi. Kondisi ini membuat arus modal global cenderung lebih selektif terhadap aset negara berkembang, termasuk Indonesia.

Dengan The Fed masih membuka peluang setidaknya satu kali kenaikan suku bunga lagi tahun ini, Fixed Income & Macro Strategist Mega Capital Sekuritas Lionel Priyadi mengatakan BI kemungkinan perlu melanjutkan pengetatan moneter secara bertahap. Meski saat ini selisih suku bunga (policy rate spread) antara BI dan The Fed telah mencapai 200 bps, MH Thamrin masih perlu menaikkan suku bunga mininal dua kali hingga ke 6,25%. 

"Masih perlu kenaikan lebih lanjut menjadi minimal 225 bps agar rupiah bisa stabil hingga awal tahun depan," kata Lionel kepada Bloomberg Technoz

Senada, menurut Samuel Sekuritas, penguatan rupiah yang masih terbatas mengindikasikan bahwa siklus kenaikan suku bunga BI kemungkinan belum berakhir. Sebab, sejak awal tahun, rupiah masih mencatat pelemahan 5,76%, hanya lebih baik dari won Korea Selatan yang melemah paling tajam 6,47%.

Pergerakan mata uang Asia, year-to-date, per Jumat (19/6/2026). (Bloomberg)

Sejalan dengan itu, menurut Faisal Rachman Ekonom PT Bank Permata Tbk (BNLI), arah BI Rate akan sangat ditentukan oleh perkembangan risiko global dan domestik, mulai dari dinamika geopolitik Timur Tengah, prospek suku bunga AS, hingga sentimen investor menjelang tinjauan MSCI dan penilaian peringkat Indonesia oleh S&P.

Jika tekanan eksternal berangsur pada paruh kedua 2026, Faisal mengatakan para ekonom di Bank Permata mempertahankan proyeksi dasar bahwa BI Rate akan bertahan di 5,75% hingga akhir 2026.

“Dalam skenario dasar kami, rupiah diperkirakan berada di kisaran Rp17.800-Rp18.000 per dolar AS pada akhir 2026, sementara yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun diproyeksikan berada pada rentang 7,2-7,4% hingga penghujung tahun,” katanya.

Analisis Teknikal

Analisis Teknikal Rupiah Jumat 19 Juni 2026 (Sumber: Bloomberg)

Secara teknikal, nilai tukar rupiah masih dibayangi tren pelemahan hari ini. Laju pelemahan sepertinya berada di rentang sempit, dengan support terdekat menuju level Rp17.740/US$. Target pelemahan kedua akan tertahan di Rp17.780/US$.

Apabila menjebol kedua support tersebut, maka rupiah berisiko melemah leboh lanjut menuju level Rp17.850/US$ sebagai support terkuatnya.

Jika rupiah mampu menguat hari ini, maka menarik dicermati area level Rp17.700/US$ dan selanjutnya Rp17.600/US$ secara potensial. Resisten lanjutan ada di Rp17.500/US$.

(riset)

No more pages